Rabu, 22 Februari 2012

hama dan penyakit tanaman kakao

A. Hama yang menyerang tanaman kakao
  1. Penggerek Buah Kakao (PBK atau Pod Borer)
Gambar 1 (larva dan imago):
Ordo : Lepidoptera
Famili : Gracillariidae
Genus : Conopomorpha
Spesies : Conopomorpha cramerella Snell  
Bioekologi :
Serangga dewasa hama PBK berupa ngengat (moth) yang berukuran kecil (panjangnya saat beristirahat sekitar 7 mm). Ngengat memiliki warna dasar cokelat dengan warna putih berpola zig-zag di sepanjang sayap depan, serta berakhir pada spot berwarna kuning oranye berpola batik di ujung sayap. Ukuran antena lebih panjang daripada  sayap da tubuh ngengat, serta mengarah kebelakang. Ngengat aktif terbang, kawin dan meletakkan telur pada malam hari,yaitu sejak pukul 18.00 – 07.00 keesokan harinya. Pada siang hari, ngengat bersembunyi di tempat yang terlindung dari sinar matahari, yaitu di bagian bawah cabang horisontal dengan diameter 0-5 cm dan lebih dari 20 cm.
Ngengat PBK tidak mampu terbang jauh dengan arah terbang yang tidak menentu. Seekor serangga jantan hanya mampu terbang 153 m dilapangan terbuka, tetapi jika dilakukan penangkapan menggunakan feromonsek, ngengat jantan mampu terbang 800 m. Ngengat betina meletakkan telur hanya dipermukaan kakao. Buah adalah yang memiliki alur dalam pada permukaannya dan panjang buah lebih dari 8 cm. Lama hidup ngengat betina 5 – 8 hari dan mampu menghasilkan telur sebanyak 100-200 butir.
Telur berbentuk oval dengan panjang 0,45-0,50 mm dan lebar 0,25-0,30 mm pipih da berwarna oranye saat baru panjangnya lebih dari 10 cm. Lama stadium telur 2- 7 hari.
Larva yang baru menetas dari telur berwarna putih transparan dengan panjang sekitar 1 mm. Larva langsung menggerek ke dalam buah dan makan permukaan dalam kulit buah, daging buah, dan saluran makanan ke biji (plasenta). Pada pertumbuhan penuh panjangnya 12 mm dan berwarna (pupa), larva membuat lubang keluar dari kulit buah dengan diameter 1mm. Segera setelah berada di luar buah, larva tersebut akan merayap di permukaan buah atau menjatuhkan diri dengan pertolongan benang sutera untuk mencari temapat berkepompong. Sebelum menjadi kepompong larva terlebih dahulu memintal benang sutera untuk membuat rumah kepompong (kokon).
Selain melekat di permukaan buah, kepompong juga terdapat di daun hijau, dau kering, batang, cabang, ranting, gulam karung, keranjang, kotak tempat bauah segar, bahakan dikendaraan yang digunakan untuk mengankut hasil panen atau bahan apa saja yang dapat digunakan oleh ulat tersebut. Kokon berbentuk ioval, berwarna kuning kotor, serta panjang 13-18 mm  dan lebar 6 – 7 mm. Kepompong berwarna cokelat dengan panjang 6-7 mm dan lebar 1,0 – 1,5 mm. Lama stadium kepompong 5-8 hari. Perkembangan dari telur sampai menjadi dewasa memerlukan waktu 27 – 34 hari.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Penggerek buah kakao (PBK) umumnya menyerang buah kakao yang masih muda dengan panjang sekitar 8 cm. Stadium yang menimbulkan kerusakan adalah stadium larva. Larva PBK memakan daging buah dan saluran makanan yang menuju biji, tetapi tidak menyerang biji. Gejala serangan baru tampak dari luar saat buah ,masak berupa kulit buah berwarna pudar dan timbul belang berwarna kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva serta jika dikocok tidak berbunyi , jika dibelah, daging buahnya akan tampak berwarna hitam, biji-biji melekat satu sama lain dengan wana hitam, keriput, dan ringan. Akibat serangan hama ini kerugian yang ditimbulkannya bisa mencapai 80% biji kakao kering.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.   Daerah Bebas PBK
Daerah yang masih bebas dari serangan PBK disarankan melakukan pencegahan dengan melaksanakan karantina dan monitoring PBK. Sebagai strategi penanggulangan hama PBK secara nasional, pelaksanaan karantina sebaiknya memenuhi standar peraturan domestik dan internasional.  Tindakan karantina tersebut antara lain tidak memasukkan bahan tanaman kakao dari daerah terserang, membatasi lalu lintas manusia dan kendaraan dari dan daerah terserang PBK, tidak mengizinkan masuknya kendaraan atau bahan-bahan yang dapat dihinggapi oeh PBK dari daerah terserang PBk, serta memeriksa ada tidaknya PBK di kendaraan atau manusia yang memasuki kebun.
Sementara itu, dalam penerapan konsep pengendalian hama terpadu dengan monitoring, terdapat tiga kegiatan pokok yang harus dilakukan yaitu pengamatan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan pengendalian. Kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
Teknik pengamatan PBK dilakukan saat panen di tempat pengumpulan hasil (TPH). Setiap TPH diambil 100 buah contoh untuk diamati serangan PBK-nya, pengamatan dilakukan dengan cara membelah buah kakao dan menghitung jumlah buah yang menunjukkan gejala serangan PBK. Terdapat tiga katagri serangan yaitu : serangan rigan (jika kurang dari 10% biji tidak dapat dikeluarkan dari kulit buah), serangan sedang (jika 10-50 % biji tidak dapat dikeluarkan dari kulit buah), dan serangan berat (jika lebih dar 50% biji tidak dapat dikeluarkan dari kulit buah).
Di samping itu, perlu juga dilakukan pngaturan sanitasi disekitar TPH dengan cara membuat lubang sanitasi di dekat TP, memesukkan kulit buah, plasenta buah bususk, dan semua sisa panen ke dalam lubang pada hari itu, lalu menutupnya dengan tanah setebal 20 cm. Tiga bulan kemudian, kompos dapat diangkat untuk digunakan sebagai pupuk dan lubangnya digunakan lagi.
2.    Daerah Serangan PBK
-       Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk bertujuan membatasi tajuk tanaman kakao tidak lebih dari 4 m. Hal ini  benrtujuan untuk memudahkan pemanenan dan penyemprotan insektisida. Seharusnya penagturan tinggi tajuk ini dilakukan sejak awal pertumbuhan kakao.
Pembatasan dilakukan dengan memotong semua cabang yang arahnya ke atas di luar batas 3-4 m. Pada tanaman dewasa yang sebelumnya jenis pangkasan ini tidak dilaksanakan, dengan terpaksa cabang-cabang yang diameternya besar harus dipotong. Alat potong adalah gergaji yang tajam dan luka potongan ditutup dengan ter (asal cair) atau obat penutup luka lain. Perlu diperhatikan, jorket menghindari lapuk dan pecahnya bagian ini. Karenanya, cabang-cabang kecil yang menutup jorket tersebut perlu dipertahankan. Pemangkaasan berat ini dilakukan setahun dua kali, yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan lebih sering misanya dua bulan sekali.
-       Metode Panen Sering
Panen sering saat buah masak awal yang diikuti sanitasi dapat menekan populasi PBK. Rotasi panen dianjurkan satu minggu dan diajurkan agar buah segera dipecah pada hari itu juga untuk mencegah keluarnya ulat dari buah untuk berkepompong. Kulit buah, buah busuk, plasenta dan sisa-sisa panen segera ditanam dan ditimbun dengan tanah setebal 20 cm untuk membunuh ulat yang terdapat didalam kulit buah dan plasenta.
-       ­Pegendalian Hayati
Pengendalian hayati pBK dapat dilakukan dengan memanfaatkan jamur entomopatogen ( Beauveria basiana dan Phaecilomyces fumosoroseus) dan semut hitam (Dolichodeus thoracicus). Pemanfaatan semut hitam ini sudah banyak dilakukan untuk pengendalian Helopeltis spp. Populasi semut hitam yang berlimpah di perkebunan kakao dapat menurunkan persentase serangan PBK di malaysia dan Indonesia. Peningkatan populasi semut hitam dapat dilakukan dengan cara menyediakan sarang yang terbuat dari lipatan daun kelapa atau daun kakao.
Penyemprotan jamur Beauveria bassiana isolat Bby 725 padabuah kakao muda dan cabang horiontal mampu melindungibuah tersebut dari serangan PBK hingga 54-60,5 % (juniantoda Sulityowati, 2000). Dosis yang digunakan 50-100 gram spora/ha menggunakan knapsack sprayer dengan volume semprot 250 ml/ph atau 250 l/ha.
-       Sanitasi
Sanitasi bisa dilakukan seperti yang dilakukan di daerah bebas PBK.
-       Penyemprotan Insektisida
Jenis insektisida yang dianjurkan adalah dari golongan sintetik piretroid, sperti deltametrin (Decis 2,5 EC, Decis Tablet), Fipronil (Regent EC), sihalotrin (Matador 25 EC) dan Esfenvalerat (Sumialpha 25 EC) d3engan konsentrasi formulasi 0,06-0,12 % atau sesuai dengan anjuran. Alat semprot yang digunakan adalah knapsack sprayer dengan volume semprot 250 ml/pohon atau 250 l per hektar. Jika pohon sudah terlalu tinggi, tangkai penyemprot dimodifikasi dengan PVC yang panjangnya 2 m.
-       Penyarungan Buah
Selain telah diuraikan, masih ada cara penangggulangan yang bertujuan untuk menyelamatkan sebagian buah dari serangan PBK. Cara tersebut adalah penyarungan buah dengan kantong plastik dengan metode sebagai berikut :
a.    Panjang buah yang disarungi 8-10 cm.
b.    Kantong plastik yang digunakan berukuran 30 x 15 cm dengan ketebalan 0,02 mm dan kedua ujungnya terbuka.
c.    Cara menyarungi adalah dengan mengikat bagian atas plastik ke tangkai buah.
d.    Buah dibiarkan terselubung hingga saat panen.
  1. Kepik Penghisap Buah
Gambar 2 (imago):
Ordo : Hemiptera
Famili : Miridae
Genus : Helopeltis
Spesies : Helopeltis sp.
Bioekologi :
Tiga faktor kehidupan yang menentukan serangan Helopeltis sp. yaitu cahaya matahari, kelembaban, dan arus angin di bawah tajuk. Helopeltis sp menyenangi lingkungan lembab, tetapi hama ini tidak tahan angin yang kuat. Cahaya matahari langsung selalu dihindarinya dan serangan hama ini menyenangi tempat-tempat terlindung pada areal kakao.
Pada fase nimfa ukurannya 8 mm, berwarna kuning. Bila telah dewasa berwarna kuning kecoklatan. Panjang telur 1,2 mm dan lebar 0,7 mm, berwarna putih dan berbentuk lonjong seperti pisang. Telur diletakkan pada tangkai daun, ranting, amupun pangkal buah. Lama hidup sejak telur sam pai dewasa adalah 3-5 minggu. Fase larva berlangsung selama 11-22 hari, pada ketinggian tempat 250 mm dpl. Helopeltis sp mampu bertelur pada temperature 24-27,5oC dengan kelembaban 75% sebanyak 40-250 butir di bulan-bulan kering dan 50-300 butir di bulan-bulan basah.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Serangga muda (nimfa) dan imago Helopeltis dapat menimbulkan kerusakan terhadap tanaman kakao dengan cara menusukkan alat mulutnya (stylet) kedalam jaringan tanaman untuk mengisap cairan sel-sel di dalamnya. Bersamaan dengan tusukan stylet itu, Helopeltis akan mengeluarkan cairan yang bersifat racun dari dalam mulutnya yang dapat mematikan disekitar tusukan. Akibatnya, timbul bercak-bercak cekung berwana cokelat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah.
Serangan pada buah muda dapat menyebabkan buah kering dan mati. Bercak pada buah yang terserang berat akan menyatuk, sehingga jika buah dapat berkembang terus, permukaan kulit buah menjadi retak dan terjadi perubahan bentuk (malformasi) yang dapat menghambat perkembangan biji di dalam buah.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Pemanfaatan musuh alami berupa semut hitam.
  2. Pemanfaatan ekstrak limbah tembakau.
  3. Dengan memanfaatkan musuh alami dari kepik penghisap buah kakao ini.

  1. Penggerek Batang atau Cabang (Red Branch Borer)
Gambar 3 (larva) dan 4 (imago):
Ordo : Lepidoptera
Famili : Cossidae
Genus : Zeuzera
Spesies : Zeuzera coffeae
Bioekologi :
Kupu-kupu berukuran panjang 4 cm dan lebar 2,5 cm dengan warna dominan merah. Telur diletakkan pada celah kulit kayu. Telur berwarna kuning ungu dan bila hendak menetas berubah warna menjadi kuning kehitaman. Penyebarannya dibantu oleh parasut yang dibuat sendiri. Siklus hidupnya 4-5 minggu.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Serangannya terutama pada cabang-cabang muda yang lembek, misalnya di sudut tangkai daun. Ulat hama ini akan melubangi kulit kayu kemudian ulat masuk ke dalamnya dan merusak xylem dan floem. Ulat di dalam kayu mampu menggerek sampai sepanjang 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Memotong cabang terserang sepanjang 30 cm dari lubang tempat masuknya. Cabang dikumpul lalu dibakar.
  2. Dengan mengintroduksi musuh alami dari hama ini, misalnya dengan menggunakan cendawan Beauveria bassiana, atau agen hayati lain.
  1. Ulat Api
Gambar 5 (larva) :
Ordo : Lepidoptera
Famili : Limacodidae
Genus : Darna
Spesies : Darna trima
Bioekologi :
Pada waktu menetas, larva berwarna abu-abu dengan dua bercak berwarna jingga di kepala yang kemudian akan berubah warna menjadi kuning dengan garis berwarna coklat. Telur diletakkan di permukaan bawah daun, berwarna transparan, jumlahnya mencapai 40-90 butir. Bila telur telah menetas maka ulat akan tetap tinggal di daun sampai daun rontok. Pada fase kepompong ulat turun ke tanah dan tinggal di bawah serasah, pada tempat-tempat lembab. Kupu-kupunya berukuran kecil dan dapat terbang dengan gesit. Sejak telur sampai dewasa waktunya mencapai 58-67 hari.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Serangannya mengakibatkan rontoknya daun kakao. Pada awal serangan daging daun dimakan sehingga warna daun menjadi kuning. Sambil memakan daun, ulat api mengeluarkan cairan. Serangannya tidak hanya pada beberapa helai daun, tetapi juga meliputi seluruh daun kakao.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Meningkatkan sanitasi di bawah pohon kakao.
  2. Pengendalian dengan cara hayati merupakan cara yang amat penting, dan akan berjalan sendiri jika musuh alami tersedia dan dilestarikan. Jika menggunakan lamtoro sebagai tanaman pelindung, lakukan pemangkasan ranting-ranting lamtoro pada waktu ulat masih kecil, kemudian dimusnahkan.

  1. Ulat Jengkal/Ulat Kilan
Gambar 6 (larva) dan 7 (imago) :
Ordo : Lepidoptera
Famili : Geomitridae
Genus : Hyposidra
Spesies : Hyposidra talaca
Bioekologi :
Daur hidup ualt kilan sangat bergantung pada makanan dan iklim setempat. Daur hidupnya 2,5-3,5 bulan. Betinanya dapat meletakkan telur sampai 320 butir dan meletakkan telur berkelompok pada daun, lekukan buah kakao yang mongering. Lama Stadium telur 5-6 hari. Menjelang menetas telur mengalami perubahan warna dari hijau kebiruan menjadi kehitaman. Ulat-ulat kecil yang telah menetas dari telur akan bergerombol dan angin akan membantu penyebarannya. Lama stadium larva 12-18 hari. lalu membentuk pupa yang berwarna coklat mengkilat dan berada di dalam tanah sedalam 2-5 cm, lama stadium pupa 1-8 hari. Perkembangan telur sampai menjadi dewasa memerlukan waktu sekitar 24- 32 hari. Larva mempunyai dua atau tiga pasang proleg pada ujung posterior tubuh. Panjang larva 35 -40 mm dengan diameter 3-4 mm. Larva berjalan dengan meletakkan ujung posterior tubuh dekat tungkai-tungkai toraks dan kemudian menggerakkan ujung anterior tubuh, melangkah maju dalam satu cara seperti menukik. Larva ini bisa turun ke daun kakao dengan bantuan benang-benang halus pada waktu siang hari. Apabila diganggu, larva berdiri hampir tegak di atas tungkai-tungkai posterior dan tetap tidak bergerak, menyerupai cabang-cabang yang kecil.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Larva mulai menyerang sejak mulai menetas, terutama pada daun yang muda. Daun-daun nampak berlubang-lubang dan pada serangan yang berat tanaman menjadi gundul. Hal ini dapat mengganggu proses fotosintesa sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Bila daun-daun muda telah habis maka hama ini akan meningkatkan serangannya ke daun-daun tua. Dengan demikian bila hama ini menyerang tanaman bibit maka tanaman tersebut akan menjadi gundul (tak berdaun) sama sekali.
Pengendalian hama
Pengendalian dilakukan dengan sanitasi kebun, mekanis (ulat dan kepompong dimusnahkan), dan menggunakan pestisida nabati (jika memang diperlukan). Pengendalian dengan cara hayati merupakan cara yang amat penting, dan akan berjalan sendiri jika musuh alami tersedia dan dilestarikan (lihat halaman 30-57). Jika menggunakan lamtoro sebagai tanaman pelindung, lakukan pemangkasan ranting ranting lamtoro pada waktu ulat masih kecil, kemudian dimusnahkan.


  1. Apogonia sp.
Gambar 8 (imago) :
Ordo : Coleoptera
Famili : Scarabaeidae
Genus : Apogonia
Spesies : Apogonia sp.
Bioekologi :
Telur Apogonia sp. berbentuk lonjong dengan ukuran 1-1,3 mm menjelang menetas. Betina Apogonia sp. mampu menghasilkan telur sebanyak 40 butir, yang diletakkan di bawah serasah atau permukaan tanah sedalam 2,5-5 cm. Pupa Apogonia sp. panjangnya 15 mm. Periode larva 67-77 hari. Serangga dewasa menyerang tanaman kakao muda dengan naik ke bagian daun pada malam hari. Larvanya dapat merusak akar.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Serangannya berlangsung pada malam hari. Apogonia sp. merusak daun kakao muda sehingga kelangsungan fotosintesis terhambat. Apogonia sp. menggerek mulai dari bagian pinggir daun. Tingkat serangan Apogonia sp. tampaknya berhubungan dengan kerapatan pohon pelindung. Pada areal yang penanaman pohon pelindungnya sangat intensif, tingkat serangan Apogonia sp. tinggi. Tingkat serangan juga dipengaruhi oleh keadaan gulma di areal pertanaman kakao.
Pengendalian dilakukan dengan cara mekanis dan sanitasi kebun.


  1. Tikus (Rat)
Gambar 9 :





Ordo : Rodintia
Famili : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus argentiventer Rob. & Kloss
Bioekologi :
Tikus berumur 1,5 bulan dapat berkembang biak dan menghasilkan anak 8-12 ekor dengan masa kehamilan 21 hari. Setelah 3 minggu, anak tikus memisahkan diri dari induknya dan mencari makanan sendiri.Seekor tikus dapat melahirkan 4 kali setahun.

Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Buah kakao yang terserang akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri atau jamur.

Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu untuk mengurangi jumlah hama ini.


Penyakit yang menyerang tanaman kakao
  1. Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora)
Gambar 11 :

Ordo : Pythiales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytophthora
Spesies : Phytophthora palmivora  
Bioekologi :
Jamur ini mengadakan infeksi pada buah dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya. P. palmivora terutama dapat bertahan dalam tanah. Dari sini jamur dapat terbawa oleh percikan-percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam beberapa hari jamur pada buah bisa sudah dapat menghasilkan banyak sporangium. Sporangium ini dapat terbawa oleh percikan air, atau oleh angin, dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Jamur yang berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga-serangga, seperti semut, sehingga mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah yang tinggi sporangium dapat terbawa oleh air ke buah-buah di bawahnya. Dari buah yang sakit jamur dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan buah dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kanker batang. Dari sini kelak jamur dapat kembali menyerang buah. Berat ringannya penyakit busuk buah ditentukan oleh banyak faktor, antara lain kelembapan udara, curah hujan, cara bercocok tanam, banyaknya buah pada pohon, dan jenis tanaman.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah dengan cepat menyebar ke seluruh buah. Buah menjadi busuk dalam waktu 14-22 hari. Pada permukaan buah yang sakit tadi timbul lapisan yang berwarna putih bertepung. Jamur juga masuk ke dalam buah dan menyebabkan busuknya biji-biji. Tetapi kalau penyakit timbul pada buah yang hampir masak, biji-biji masih bisa dipungut dan dimanfaatkan.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Mengurangi kelembapan kebun, misalnya dengan memperbaiki drainase, memangkas tanaman kakao dan pohon pelindung dengan teratur, dan mengendalikan gulma.
  2. Mempertahankan serasah sebagai mulsa di sekitar pangkal batang.
  3. Memanen buah yang masak secara teratur sambil membersihkan buah-buah yang sakit. Buah yang sakit beserta dengan kulit buah (cangkang) dipendam cukup dalam sehingga paling sedikit tertutup tanah setebal 10 cm.
  4. Buah diselubungi dengan plastic untuk mengendalikan busuk buah dan penggerek buah kakao.
  5. Selama musim penghujan buah-buah disemprot dengan fungisida.

  1. Kanker Batang
Gambar :
Ordo : Pythiales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytophthora
Spesies : Phytophthora palmivora  

Bioekologi :
Jamur ini mengadakan infeksi pada buah dapat bersumber dari tanah, batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya. P. palmivora terutama dapat bertahan dalam tanah. Dari sini jamur dapat terbawa oleh percikan-percikan air hujan ke buah-buah yang dekat tanah. Setelah mengadakan infeksi, dalam beberapa hari jamur pada buah bisa sudah dapat menghasilkan banyak sporangium. Sporangium ini dapat terbawa oleh percikan air, atau oleh angin, dan mencapai buah-buah yang lebih tinggi. Jamur yang berada dalam tanah dapat juga terangkut oleh serangga-serangga, seperti semut, sehingga mencapai buah-buah yang tinggi. Dari buah yang tinggi sporangium dapat terbawa oleh air ke buah-buah di bawahnya. Dari buah yang sakit jamur dapat berkembang melalui tangkai dan menyerang bantalan buah dan dapat berkembang terus sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kanker batang. Jika buah yang terserang P. palmivora tidak segera dipetik, jamur akan berkembang melalui tangkai buah dan menginfeksi kulit batang atau cabang. Dari sini kelak jamur dapat kembali menyerang buah. Jamur tidak dapat menginfeksi batang yang sehat, kecuali kalau terdapat luka-luka, misalnya luka karena serangga.
Faktor-faktor yang membantu pada busuk buah akan membantu kanker batang. Namun kalau usaha pemetikan buah sakit dilakukan dengan teliti, kanker batang hanya akan sedikit menimbulkan kerugian. Pada pohon yang sehat biasanya hanya terjadi kanker-kanker kecil. Gangguan yang berat biasanya menunjukkan adanya faktor lingkungan yang kurang baik atau tindakan agronomi yang kurang tepat.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Yang dimaksud dengan kanker dalam ilmu penyakit tumbuhan adalah luka yang berbatas jelas pada kulit, dikelilingi oleh jaringan kalus, yang seringkali terbuka sehingga kayu tampak dari luar.
Pada penyakit kanker batang kakao pada batang atau cabang yang besar terdapat tempat yang warnanya lebih gelap dan agak mengendap. Pada tanaman yang sangat rentan tempat ini sering mengeluarkan cairan kemerahan, yang setelah mongering tampak seperti lapisan karat pada permukaan kulit. Gejala ini sukar terlihat karena tertutup oleh lapisan luar kulit, lebih-lebih kalau permukaan batang tertutup oleh lumut atau lumut kerak. Kalau lapisan kulit luar dikorek, tampak bahwa lapisan kulit bagian dalam berwarna merah kecoklatan. Bercak ini dapat meluas dengan cepat sehingga banyak kulit produktif yang rusak.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Buah-buah yang bergejala busuk buah harus segera dipetik dan dipendam karena busuk buah berkaitan dengan timbulnya kanker batang.
  2. Perlu diusahakan agar infeksi pada kulit dapat segera diketahui. Pada bagian yang sakit kulit luar (kerak) dikorek, sehingga kulit dalam terlihat.
  3. Pemeliharaan kebun yang dilakukan sebaik-baiknya akan meningkatkan ketahanan pohon-pohon. Lebih-lebih kalau usaha ini disertai dengan pembersihan buah-buah sakit dengan daur yang pendek, misalnya seminggu sekali.

  1. Vascular Streak Dieback (VSD)
Gambar :
Ordo : Uredinales
Kelas : Basidiomycetes
Genus : Oncobasidium
Spesies : Oncobasidium theobromae

Bioekologi :
O. theobromae adalah jamur yang sangat unik, merupakan satu-satunya jenis Basidiomycotina yang menginfeksi xylem, dipencarkan oleh angin, menginfeksi daun. Sifatnya mendekati sifat jamur yang biotrofik. O. theobromae membentuk Basidiospora yang hanya pada waktu malam, dan disebarkan oleh angin. Dengan cara ini jamur tidak dapat tersebar jauh, karena kelembapan tinggi pada umumnya hanya terjadi bila udara tenang. Untuk pembentukan Basidiospora tubuh buah jamur harus basah diwaktu malam. Adanya hujan malam yang diikuti dengan embun akan membantu penyebaran penyakit.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Satu atau dua daun pada flush kedua atau ketiga di belakang titik tumbuh menguning secara khas. Pada daun ini terjadi bercak-bercak hijau kecil yang berbatas tegas, yang tersebar pada latar belakang kuning. Daun yang sakit akan gugur beberapa hari setelah menguning. Pada ranting yang bersangkutan terjadi gejala ompong, satu atau dua daun gugur, sedangkan beberapa daun di sebelah bawah dan atasnya masih lengkap. Jika lapisan permukaan dari bekas tangkai daun yang sudah gugur disayat, terlihat adanya tiga noktah yang berwarna coklat kehitaman. Lalu adanya garis-garis berwarna coklat pada berkas pembuluh (vascular streak) yang terlihat pada penampang membujur cabang dan ranting-ranting mati dari ujungnya (dieback).
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Penanaman kultivar yang tahan terhadap penyakit ini.
  2. Melakukan pemangkasan untuk menghilangkan ranting atau cabang yang sakit yang mengandung jamur (sanitasi) dan untuk mengurangi kelembapan kebun.
  3. Pembibitan dibuat jauh dari kebun yang berpenyakit agar pembibitan menghasilkan bibit yang sehat.

  1. Jamur Upas
Gambar :
Ordo : Stereales
Famili : Corticiaceae
Genus : Corticium
Spesies : Corticium salmonicolor

Bioekologi :
Jamur upas dipencarkan oleh Basidiospora yang terbawa oleh angin. Basidiospora tidak dapat terangkut jauh dengan tetap hidup karena mempunyai dinding tipis dan hanya terbentuk bila udara lembap (udara yang lembap hanya terjadi kalau udara tenang). Adanya infeksi jamur upas pada satu pohon berarti bahwa sumber infeksi berada di sekitarnya. Selain dari cabang kakao yang sakit, infeksi bisa terjadi dari bermacam-macam tanaman inang seperti karet, kopi, pala, lada, jeruk, melinjo, nangka, jati, dan damar. Penyakit dibantu oleh kelembapan udara yang tinggi, sehingga terdapat dalam kebun yang gelap, dan pada musim hujan.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Infeksi jamur ini pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang ataupun ranting. Apabila menyerang ranting dan cabang kecil umumnya tidak menimbulkan kerugian yang berarti, karena dengan memotong ranting/cabang kecil yang terserang cukup untuk mengendalikan jamur ini dan tumbuhnya bunga pada ranting dan cabang kecil tidak kita harapkan.
Serangan dimulai dengan adanya benang-benang jamur tipis seperti sutera, berbentuk
sarang laba-laba. Pada fase ini jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. Pada bagian ujung dari cabang yang sakit, tampak daun-daun layu dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun sudah kering.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanis, yaitu memotong cabang/ranting sakit sampai 15 cm pada bagian yang masih sehat; membersihkan /mengeruk benang-benang jamur pada gejala awal dari cabang yang sakit, kemudian diolesi dengan fungisida. Cara kedua adalah dengan kultur teknis, yaitu pemangkasan pohon pelindung untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sinar matahari dapat masuk ke areal pertanaman kakao.
  1. Penyakit Antraknose
Gambar :
Ordo : Melanconiales
Famili : Melanconiacea
Genus : Colletotrichum
Spesies : Colletotrichum gloeosporioides

Bioekologi :
Penyakit ini tersebar melalui spora yang terbawa angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi.

Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Pada daun muda nampak bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah muda nampak bintik-bintik coklat yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (antraknose). Buah muda yang terserang menjadi layu, kering, dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan memangkas cabang & ranting yang terinfeksi, mengambil buah-buah yang sakit dikumpulkan dan ditanam atau dibakar. Melakukan pemupukan (N,P,K) satu setengah kali dosis anjuran. Pengaturan naungan sehingga tajuk pohon kakao tidak terkena sinar matahari langsung dan perbaikan drainase tanah untuk menghindari genangan air di dalam kebun.
Referensi
Anonim. (1998). Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. No. Seri:01.004.98. 28 hal.
Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson (1989). An Introduction to the Study of Insects. Sixth Edition. Harcourt Brace College Publishers, Fort Worth, TX, USA.
Nuraini, Siti, Sri Widyaningsih, Riyatno, A. Sipayung dan H. Suhartawan (1996). Pedoman Pengembangbiakan Burung Hantu, Tyto alba, Sebagai Predator Tikus di Areal TanamanPerkebunan. Dokumen A.H.T.2, Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan,Jakarta, Indonesia.

Sabtu, 26 November 2011

Sistem Pertanian Terpadu


Sistem Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta pengembangan desa secara terpadu. Diharapkan kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian ini.
Model pertanian terpadu dalam satu siklus biologi (Integrated Bio Cycle Farming) yang tidak ada limbah, semua bermanfaat. Limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah peternakan diolah jadi biogas dan kompos sehingga impian membentuk masyarakat tani yang makmur dan mandiri terkonsep dengan jelas.
Konsep terapan pertanian terpadu akan menghasilkan F4 yang sebenarnya adalah langkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan energi secara regional maupun nasional, terutama pada kawasan kawasan remote area dari jajaran kepulauan Indonesia.
(1)              F1 (FOOD)
Pangan manusia (beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan, jamur, sayuran, dll.), produk peternakan (daging, susu, telor, dll.), produk budi-daya ikan air tawar (lele, mujair, nila, gurame, dll.) dan hasil perkebunan (salak, kayu manis, sirsak, dll.)
(2)       F2 (FEED)
Pakan ternak termasuk di dalamnya ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kelinci), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara, dll.), pakan ikan budidaya air tawar (ikan hias dan ikan konsumsi).
Dari budidaya tanaman padi akan dihasilkan produk utama beras dan produk sampingan bekatul, sekam padi, jerami dan kawul, semua produk sampingan apabila diproses lanjut masih mempunyai kegunaan dan nilai ekonomis yang layak kelola. Jerami dan malai kosong (kawul) dapat disimpan sebagai hay (bahan pakan kering) untuk ternak ruminansia atau dibuat silage (makanan hijau terfermentasi), sedangkan bekatul sudah tidak asing lagi sebagai bahan pencampur pakan ternak (ruminansia, unggas dan ikan). Pakan ternak ini berupa pakan hijauan dari tanaman pagar, azolla, dan eceng gondok.
(3)       F3 (FUEL)  
Akan dihasilkan energi dalam berbagai bentuk mulai energi panas (bio gas) untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri makanan di kawasan pedesaan juga untuk industri kecil. Hasil akhir dari bio gas adalah bio fertilizer berupa pupuk organik cair dan kompos.
Pemakaian tenaga langsung lembu untuk penarik pedati, kerbau untuk meng-olah lahan pertanian sebenarnya adalah produk berbentuk fuel/energi.
Sekam padi dapat dikonversi menjadi energi (pembakaran langsung maupun gasifikasi) dan masih akan menghasilkan abu maupun arang sekam yang dapat diimplementasikan sebagai pupuk organic, sementara apabila energi sekam padi digunakan untuk gas diesel engine akan didapatkan lagi hasil sampingan berupa asap cair (cuka kayu) yang dapat digunakan untuk pengewet makanan atau campuran pestisida organik.
(4)       F4 (FERTILIZER)
Sisa produk pertanian melalui proses decomposer maupun pirolisis akan menghasilkan organic fertilizer dengan berbagai kandungan unsur hara dan C-organik yang relative tinggi. Bio/organic fertilizer bukan hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (soil conditioner), yang dari sisi keekonomisan maupun karakter hasil produknya tidak kalah dengan pupuk buatan (anorganik fertilizer) bahkan pada kondisi tertentu akan dihasil-kan bio pestisida (dari asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis gasifikasi) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya (bio preservative).
Contoh :
Sistem Pertanian Terpadu dengan teknologi EM
Model sistem pertanian terpadu dengan teknologi EM telah dikembangkan dengan cukup baik oleh Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) di Bali. Memadukan budidaya tanaman, perkebunan, petemakan, perikanan, dan pengolahan daur limbah  secara selaras, serasi, dan berkesinambungan. Budi daya tanaman yang dipilih adalah tanaman semusim dan tahunan, misalnya padi, palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, cengkeh, kopi, kelapa, dan sebagainya. Kebutuhan input budi daya tanaman menggunakan prinsip penggunaan masukan luar rendah (low external input), misalnya penggunaan pupuk kimia dan pestisida seminimal mungkin atau bahkan tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida sama sekali.
Limbah organik dari kotoran temak dan sisa-sisa tanaman difermentasikan dengan teknologi EM menjadi pupuk organik terfermentasi atau bokhasi dalam waktu yang cepat. Bokhasi dapat digunakan sebagai pupuk pertanian dan pakan ternak atau ikan. Kotoran ayam dan kotoran kambing juga dapat difermentasi dengan teknologi EM menjadi pakan temak (bokhasi pakan temak) ayam, babi, dan itik. Ide dasar pemanfaatan kotoran temak sebagai bokhasi pakan temak adalah karena kotoran ayam masih mengandung protein sebesar 14%, sedangkan kotoran kambing masih mengandung protein sebesar 12% dan serat kasar sebesar 80%, jika dibandingkan dengan hijauan pakan ternak (Wididana, 1999).
Model pertanian terpadu dengan teknologi EM dapat mengurangi masukan energi dari luar sistem pertanian untuk menghasilkan produk pertanian. Proses fermentasi dapat menaikkan kandungan nutrisi pakan temak yang berasal dari kotoran temak. Sehingga masukan energi dari luar system pertanian dapat diperkecil atau ditiadakan sama sekali. Demikian juga dalam bidang budi daya tanaman, limbah tanaman yang terbuang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk melalui proses fermentasi, sehingga disini  tidak  ada  limbah. Limbah  pertanian dapat dimanfaatkan untuk pakan Ternak dan limbah peternakan diolah jadi biogas dan  kompos  sehingga  impian  membentuk  masyarakat  tani  yang makmur dan mandiri terkonsep dengan jelas. Seperti gambar di bawah ini.
    

Penyakit Pasca panen


Busuk Kering Fusarium pada Umbi Kentang

           
Busuk kering fusarium disebabkan oleh Fusarium spp. Menyerang umbi kentang yang disimpan dalam gudang. Penyakit dapat mempunyai arti yang  cukup penting. Penyakit ini tersebar luas dan hampir terdapat di semua daerah penanam kentang di seluruh dunia. Busuk umbi terdapat di Malaysia, Filipina, dan Negara-negara Pasifik Selatan, tetapi agaknya penyakit ini belum terdapat di Thailand (Benigno dan Quebral, 1977; Giatgong, 1980; Graham, 1971; Singh, 1980).

Gejala :
Pada umbi yang disimpan permulaan serangan Fusarium tampak dengan terbentuknya bercak-bercak berlekuk dan berwarna tua, yang makin lama makin meluas. Pada permukaannya terdapat miselium berbentuk bantal-bantal yang berwarna putih sampai berwarna merah jambu dan membentuk banyak konidium. Bagian umbi yang sakit menjadi kering, berkerut, dan keras (mummifikasi), sehingga sukar dipotong dengan pisau. Bagian dalam umbi yang sakit berubah menjadi massa bertepung yang kering. Jika infeksi jamur Fusarium diikuti oleh jasad-jasad sekunder, misalnya bakteri, umbi dapat menjadi busuk basah.

Penyebab penyakit :
Penyakit ini disebabkan oleh beberapa spesies Fusarium. Yang paling banyak terdapat adalah Fusarium caeruleum (Lib.) Sacc. Spesies ini mempunyai konidium berbentuk sabit, yang umumnya bersekat 3, berukuran 30-40 x 4,5-5,5 μm, membentuk massa yang berwarna putih, oker, atau merah jambu.
F.sambucinumFuckel dan F. solani (Mart.) AppeletWr. f.sp. martiidilaporkandapatmenyebabkanbusukkeringjuga (Anon., 1987/1988).
Disampingitu, F. oxysporumSchlechtdapatmenyebabkanpenyakitini (Rayati, 1983).
            Di Malaysia jamurpenyebabbusukumbidiidentifikasisebagaiFusariumculmorum (W.G. Sm.)Sacc., F. oxysporumSchlecht. ex Fr., dan F. solani (Mart.) Sacc. (Singh, 1980).

            Daurpenyakit :
            Penyebabpenyakitiniumumterdapat di dalamtanah yang ditanamikentang.Infeksiterjadimelaluiluka-luka yang terdapatpadakulitkentang, misalnyaluka-luka yang terjadisecaramekanisselamapanenandansortasi, karenaserangga, nematode, jamur, danjugaluka-lukakarenaterbakarmatahari.TetapijamurFusariumjugadapatmengadakaninfeksipadaumbi yang utuhmelaluilentiseldanjaringan yang lemah di sekitar tunas (mata).
            Di dalamgudangpenularanberlangsungagaklambatterjadikarenaadanyakontakantaraumbi yang sehatdengan yang sakit, ataudenganperantaraankonidiumjamur.

            Faktor-faktor yang mempengaruhipenyakit :
            Intensitaspenyakitdalamgudangdibantuolehsuhupenyimpanan yang relative tinggi, cahaya yang lebihdari 50%, danpenyimpanan yang lebihdari 4 bulan. Adanyaluka-lukapadaumbimembantuinfeksi.
            KultivarDragamempunyaiketahanan yang lebihtinggiterhadapbusukkeringFusariumdaripadakultivarCipanasdanKatela (Rayati, 1983).
            MenurutSuhardi, et al (1988) pemakaiankotorankudasebagaipupukmeningkatkanjumlahumbi yang dalamgudang, baikolehFusarium spp. maupunErwiniacartovora, jikadibandingkandengankotoranayam.
           


Pengendalian :
1.      Diusahakan agar panenandansortasidilakukandenganhati-hatiuntukmenghindarkanterjadinyaluka-luka.
2.     Gudangsimpanandibersihkandenganteliti; kalauperlugudangdidesinfestasidengan formalin 4% (Anon, 1977).
3.     Umbi-umbi yang disimpandiperiksadenganteratur. Umbi yang bergejalapenyakitharusdibuangsegera.
4.     Umbi-umbibenih yang sakittidakturuttertanam.
5.     Menyimpanumbi-umbidalamsuhu yang serendahmungkin.
6.     Memberantas nematode dalamtanahuntukmengurangiluka-luka yang dapatmenjadijalaninfeksiFusarium (Anon, 1977).
7.     Dapatmenggunakanobat-obat, misalnyadenganmerendamumbi yang barusajadipungutdalamlarutan yang mengandung formalin.



Daftarpustaka :
Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-PenyakitTanamanHortikultura di Indonesia. Yogyakarta: GadjahMada University Press
           

Kamis, 27 Oktober 2011

Rosella


CARA PEMBUATAN SIRUP ROSELLA
Sirup Rosella
        Tahukah anda, apa itu rosela? mungkin sebagian orang tahu, dan sebagian lagi tidak. Daripada anda penasaran, lebih baik kita bahas lebih jauh soal rosela dan apa saja manfaatnya. Rosela adalah bunga yang biasanya dicampur sebagai teh. Teh rosela saat ini menjadi popular dan disukai banyak orang. mengapa? seba rasanya yang memukau disertai dengan bahan baku yang kaya akan nutrisi yang bermanfaat. Kelopak bunga rosela berwawrna merah menyala, yang mengandung senyawa golongan flavonoida yang bekerja sebagai antioksida. Tidak hanya itu, bunga rosela juga mengandung vitamin C yang berguna untuk menjaga daya tahan tubuh. Perlu di tekankan bahwa bagian yang biasanya dipakai adalah kelopak bunga yang menebal, dan bukanlah mahkotanya. Bunga rosela memiliki mahkota bunga yang berwarna putih dan bila mengembang, lamakelamaan mehkotanya mengkerut. Selanjutnya terjadi pengembangan kelopak bunga yang berwarna merah.
         Zat warna merah pada kelopak bunga roselabersifat larut dalam air dan dapat dipakai sebagai bahan untuk membuat sirup. Caranya cukup sederhana. Dengan membuat sirup dari gula pasir yang dilarutkan air sambil dipanaskan. Jangan lupa, jumlah gula pasir adalah 60 % dari jumlah air yang digunakan. Masukkan kelopak bunga yang segar atau yang sudah dikeringakan kedalam larutan. Banyaknya kelopak yang dimasukkan tergantung pada selera dalam hal intensitas warna dan rasa. Untuk minuman sehari-hari, kita hanya menggunakan kelopak bunga dalam jumlah secukupnya, yang dapat langsung dimasukkan kedalam air panas. Diamkan sebentar. Dan sebagai tambahan rasa dapat di tambahkan sedikit madu. Anda dapat minum 1 gelas, 3 kali seminggu. Bagi penderita penyakit lambung, sebaiknya makan dahulu sebelum meminum minuman ini. Daripada susah-susah untuk mendapatkan tanaman ini terus-menerus, lebih baik bila kita menanamnya sendiri pada polibag atau pot sdi tera rumah. Kita dapat memetik kelopaknya setelah biji mengering.
 
Caranya gampang loh..gini caranya..
Bahan-bahan :
1. 100 gram Bunga Rosella
2. 800 gram Gula Pasir (kalau suka manis bisa di tambah gulanya)
3. Air 1 liter
4. Vanili secukupnya.

Cara Membuatnya :
Masak air hingga mendidih, Cuci Bunga Rosella dan tiriskan, Setelah air mendidih masukkan bunga rosella yg udah di cuci. Aduk hingga air berwarna merah, kalo air sudah berwarna merah ambil bunga Rosella dan di tauh di dalam baskom (jangan dibuang, bunga yg hbs dibuat sirup bisa di bikin selai bunga rosella). kalo sudah g ada bunganya, campur gula sama vanili aduk rata. kemudian akat dan saring ke dalam botol. kalo suka dingin bisa di taruh di dalam lemari es
Nah mudahkan..... dan anak2 pasti pada suka dari pada beli es di luar mending bikin sirup rosella yg menyehatkan dan menyegarkan.

sekarang saya akan membuat Selai dari Bunga Rosella
Bahan :
1. Bunga Rosella yg habis membuat sirup
2. Gula Pasir
3. Vanili

Cara Membuat :
Blender Bunga Rosella, campur gula dan vanili, setalah itu masak hingga mengental, kalo lum mengental bisa di kasih tepung sedikit aja. kemudian tiriskan.

selesai dech.......

Sumber :

Kamis, 30 September 2010

Tanah sebagai Pendaur Ulang

           Tanah merupakan media yang sangat baik untuk mendaur ulang dan mengurangi sifat-sifat meracun bahan-bahan organik, serta mendaur ulang banyak unsur dan gas-gas global. Karena kemampuan tanah tersebut maka hingga sekarang tanah menjadi alternatif pertama untuk pembuangan limbah yang sangat murah. Tanah yang tidak dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik dikatakan tanah tidak subur.
           Sampah organik yang dapat membusuk atau diuraikan oleh mikroorganisme antara lain dapat dilakukan dengan mengukur sampah-sampah dalam tanah secara tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai kompos atau pupuk. Untuk mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang timbul pada proses pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis dengan tanah.
           Tanah yang keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami tersebut dinamakan pencemaran tanah. Tanah yang telah tercemar harus dibersihkan, cara mengurangi dampak dari pencemaran tanah ada dua, yaitu :
1. Remediasi, ialah membersihkan permukaan tanah yang tercemar.
2. Bioremediasi, ialah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mengdegredasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
          Sifat-sifat tanah yang berfungsi pendaur ulang adalah tanah yang berkualitas (Magdof, 2001), berupa :
a. cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara
b. mempunyai struktur yang baik
c. mempunyai kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase
d. mempunyai drainase internal yang baik
e. populasi penyakit dan parasit rendah
f. populasi organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi
g. tekanan gulma rendah
h. tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman
i. tahan terhadap kerusakan
j. elastis dalam mengikuti suatu proses degredasi



sumber :
kapurpertanian.com/...tanah/Tanah-untuk-kehidupan.html-tembolok-mirip
Sarifuddin.2004.Mikrobia Sebagai Indikator Kesehatan Tanah.Bogor:IPB [Makalah]