Minggu, 01 April 2012

Hama dan Penyakit pada Bawang Merah, Bawang Daun, dan Bawang Putih


A.       Hama yang Menyerang
1.        Ulat Grayak (Spodoptera exigua Hubner)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Gejala serangan :
            Ulat bawang dapat menyerang tanaman sejak fase pertumbuhan awal (1-10 hst) sampai dengan fase pematangan umbi (51-65 hst). Ulat muda (instar 1) segera melubangi bagian ujung daun, lalu masuk ke dalam daun bawang. Ulat memakan permukaan daun bagian dalam, dan tinggal bagian epidermis luar. Daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih transparan, akhirnya daun terkulai.
Bioekologi :
            Imago betina meletakkan telur pada daun bawang secara berkelompok dan ditutupi oleh bulu-bulu atau sisik dari induknya. Tiap kelompok telur maksimum terdapat 80 butir. Jumlah telur yang dihasilkan seekor betina sekitar 1.000 butir. Telur berwarna putih, berbentuk bulat sampai bulat telur (lonjong) dengan ukuran sekitar 0,5 mm. Setelah 2-6 hari telur menetas menjadi larva.
            Larva (ulat) muda terdiri dari enam instar kadang ada juga yang lima instar. Larva berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya, berukuran 1,2 – 1,5 mm. Sedangkan larva instar lanjut (2-5), berwarna hijau (umumnya didataran rendah) dan berwarna cokelat (umumnya didataran tinggi), dengan garis kuning pada punggungnya. Larva berukuran antara 1,5 – 19 mm, aktif pada malam hari, dan stadium larva berlangsung selama 8-10 hari. Setelah melalui instar akhir, larva mejatuhkan diri ke tanah untuk berkepompong (pupa). Larva S.exigua mempunyai sifat polifag (pemakan segala).
            Pupa berwarna cokelat muda dengan panjang 9-11 mm. Pupa berada di dalam tanah ± 1 cm, dan sering dijumpai juga pada pangkal batang, terlindung di bawah daun kering. Lama hidup pupa berkisar antara 6 – 7 hari. Siklus hidup dari telur sampai imago adalah 3 – 4 minggu. Ngengat mempunyai sayap depan berwarna cokelat tua dengan garis-garis kurang tegas dan terdapat bintik-bintik hitam, rentangan sayap antara 25-30 mm. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dan tepinya bergaris-garis hitam. Ngengat betina mulai bertelur pada umur 2-10 hari.
Pengendalian :
a. Kultur Teknis
- Menanam varietas toleran, seperti varietas Kuning dan Bima.
- Penerapan pola tanam yang meliputi pengaturan waktu tanam, pergiliran tanaman, tanam serentak, dan tumpang sari.
- Sanitasi/pengendalian gulma disekitar pertanaman
- Pengolahan tanah yang sempurna
- Pengelolaan air yang baik
- Pengaturan jarak tanam
b. Fisik/Mekanik
- Mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang lalu dibutit (dimasukkan dalam kantong plastik dan diikat), terutama pada saat tanaman bawang merah berumur 7 – 35 hari kemudian dimusnahkan.
- Memasang lampu perangkap (neon 7 – 10 watt jumlah sekitar 25 – 30 buah/ha), mulai dari 1 minggu sebelum tanam sampai menjelang panen (± 60 hari), dari pukul 18.00 – 06.00. Ketinggian  lampu 10 – 15 cm (dari permukaan tempat air s.d. pucuk tanaman) sedangkan mulut bak perangkap tidak boleh lebih dari 40 cm diatas pucuk tanaman. Jarak antar lampu 20 m x 15 m.
- Pemasangan perangkap feromonoid seks dipasang sebanyak 40 buah/ha untuk menangkap ngengat S. exigua segera setelah tanaman bawang merah ditanam.
c. Biologi
Menggunakan parasitoid S. exigua seperti Telenomus spodopterae, Eriborus sinicus, Apanteles sp., Trichogramma sp., Diadegma sp., Cotesia sp., Chaprops sp., Euplectrus sp., Stenomesius japonicus, Microsplitis similes, Steinernema sp., dan Peribaea sp. Patogen serangga antara lain Mikrosporidia SeNPV, Bacillus thuringiensis, Paecilomyces farinosus, Beauveria bassiana , Metarrhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Erynia spp. Predator antara lain Carabidae.

2.  Lalat Pengorok Daun (Liriomyza chinensis)
Ordo : Diptera
Famili : Agromyzidae
Gejala Serangan :
Gejala daun bawang yang terserang berupa bintik – bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok – kelok. Serangan pada tanaman dapat terjadi sejak fase awal pertumbuhan (1-10 hari setelah tanam) dan berlanjut hingga fase pematangan umbi (51-65 hari setelah tanam). Pada keadaan serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan sehingga menjadi kering dan berwarna cokelat seperti terbakar. Larva pengorok daun bawang ini dapat masuk sampai ke umbi bawang, dan hal ini yang membedakan dengan jenis pengorok daun yang lain. Kerusakan berat biasanya terjadi pada akhir musim kemarau.
Morfologi/Bioekologi :
            Telur berwarna putih bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm, diletakkan dalam jaringan daun melalui ovipositor. Jumlah telur yang diletakkan serangga betina selama hidupnya berkisar 50-300 butir, dengan rata-rata 160 butir. Stadium telur berlangsung antara 2-4 hari.
            Larva yang baru keluar, berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Larva yang sudah berusia lanjut (instar 3) berukuran 3,5 mm dan dapat mengorok jaringan 600 x lipat dari larva instar 1. Larva instar 3 ini kemudian keluar dari liang korokan untuk membentuk pupa, lama stadium larva antara 6-12 hari.
            Pupa berwarna kuning keemasan hingga cokelat kekuningan, dan berukuran 2,5 mm. Umumnya ditemukan di tanah, tetapi pada tanaman bawang merah sering ditemukan menempel pada permukaan bagian dalam dari rongga daun bawang. Lama stadium pupa antara 9-12 hari, lalu keluar menjadi serangga dewasa (imago).
            Lalat L. chinensis berukuran panjang 1,7 – 2,3 mm, pada bagian punggungnya berwarna hitam, sedangkan pada lalat L. huidobrensis dan L. sativa di bagian ujung punggungnya terdapat warna kuning. Imago betina mampu hidup selama 6-14 hari dan imago jantan antara 3-9 hari. Siklus hidup pada tanaman bawang daun sekitar 3 minggu.
Pengendalian :
a. Kultur Teknis
- Penanaman varietas toleran; seperti varietas Philipine.
- Budidaya tanaman sehat; upayakan tanaman tumbuh subur melalui pengairan yang cukup, pemupukan berimbang, dan penyiangan gulma. Tanaman yang tumbuh subur lebih toleran terhadap serangan hama.
- Pergiliran tanaman; lalat L. chinensis baru diketahui hanya menyerang tanaman golongan bawang, maka bila disuatu wilayah terjadi serangan berat, sebaiknya satu musim berikutnya tidak menanam tanaman  golongan bawang.
b. Fisik/Mekanik
- Penggunaan mulsa plastik; mulsa plastic berwarna perak dipasang sebelum tanam, lalu diberi lubang disetiap titik jarak tanam dengan garis tengah lubang yang cukup untuk berkembangnya tanaman bawang merah sampai panen akan mematikan larva yang jatuh dari daun.
- Pengambilan daun yang menunjukkan gejala korokan dipotong dan dibutit lalu dimusnahkan.
- Pemasangan kain kelambu
- Perangkap lampu neon (TL 10 watt) dengan waktu nyala mulai pukul 18.00 – 24.00 paling efisien dan efektif untuk menangkap imago.
c. Biologi
Pengendalian Biologis dengan menggunakan parasitoid Hemiptarsenus varicornis, Opius sp, Neochrysocharis sp., Asecodes sp., Chrysocharis sp., Chrysonotomya sp., Gronotoma sp., Quadrasticus sp., Digyphus isaea, dan predator Coenosia humilis.

3.        Orong – orong atau Anjing Tanah (Gryllotalpa africana Pal.)
Ordo : Orthoptera
Famili : Gryllotalpidae
Morfologi/Bioekologi :
            Orong – orong tinggal dibawah permukaan tanah. Imago menyerupai jengkrik, panjang kira – kira 3 cm, dan berwarna merah tua. Mempunyai sepasang kaki depan yang kuat untuk melindungi diri, dan terbang pada malam  hari.
            Telur berwarna putih kekuning – kuningan, diletakkan pada sel – sel keras yang dibuat dari tanah. Didalam satu sel terdapat 30 – 50 butir telur.
Nimfa seperti serangga dewasa, tetapi ukurannya lebih kecil. Sifatnya sangat polifag, mamakan akar, umbi, tanaman muda dan serangga kecil seperti kutu daun. Lamanya daur hidup 3 – 4 bulan.
Gejala Serangan :
            Hama ini umumnya banyak dijumpai menyerang tanaman bawang pada fase penanaman ke dua atau sekitar umur tanaman kira – kira 1 – 2 minggu setelah tanam. Serangan ditandai dengan layunya tanaman, karena akar tanaman rusak, bahkan pada umbi kadang terdapat lubang dengan bentuk yang tidak beraturan.
Pengendalian :
a. Kultur Teknis
- Penggunaan pupuk kandang yang matang dapat mengurangi serangan Gryllotalpa sp.
- Menjaga kebersihan kebun (sanitasi) dapat mengurangi serangan Gryllotalpa sp.
b. Fisik/Mekanik
Pemasangan umpan beracun yang terdiri dari 10 kg dedak dicampur dengan 100 ml insektisida yang dianjurkan kemudian campuran tersebut diaduk secara merata dan disebar diatas bedengan pertanaman pada senja hari
c. Biologi
Pemanfaatan musuh alami seperti predator Chlaenius, Labidura riparia, parasitoid Neothrombium gryllotalpae , dan pathogen serangga Beauveria bassiana, Paecilomyces sp.

4.        Hama Bodas (Thrips tabaci)
Gejala serangan :
Terlihat pada daun berupa bercak mengilap dan luka bekas gigitan yang berbentuk bintik-bintik berwarna putih, lalu berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Perkembangan dan penyebaran hama ini cepat sekali.
Pengendalian :
1.        Memangkas bagian daun yang terserang.
2.        Penggunaan insektisida fosfororganik, seperti Bayrusil 250 EC yang mengandung bahan aktif kuinalfos, Mesurol 50 WP yang mengandung bahan aktif merkaptodimetur, ataupun Azodrin 15 WSC dan Nuvacron 20 SCW yang mengandung bahan aktif monokotofos.

5.        Tungau
Gejala :
Dari kejauhan daun terlihat berwarna abu-abu karena cairan daunnya dihisap tungau. Bila musim kemarau lebih banyak lagi tungau yang menyerang. Karena tak begitu berbahaya, hama ini kurang ditakuti.
Pengendalian :
 Penggunaan akarisida, seperti Meotrin 50 EC yang mengandung bahan aktif fenpropatrin atau Roxion 40 EC yang mengandung bahan aktif dimetoat. Konsentrasinya 2 ml/l air. Penyemprotan dimulai sejak tanaman berumur 9 minggu hingga 2 minggu sebelum panen dengan selang waktu seminggu sekali.

B.       Penyakit yang Menyerang
1.        Bercak Ungu (Alternaria porri)
Penyebab penyakit :
Jamur Alternaria porri (Ell.) Cif. Jamur ini dulu sering disebut Macrosporium porri Ell.
Gejala :
Gejala pertama adalah terjadinya bercak kecil, melekuk, berwarna putih sampai kelabu. Jika membesar bercak tampak bercincin-cincin, dan warnyanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang dapat meluas agak jauh diatas atau dibawah bercak. Pada cuaca lembab permukaan bercak tertutup oleh konidiofor dan konidium jamur yang berwrna cokelat sampai hitam.
Ujung daun yang sakit mengering, dan bercak lebih banyak terdapat pada daun tua. Infeksi pada umbi lapis terjadi pada saat panen atau sesudahnya. Umbi yang membusuk tampak agak berair. Pembusukan mulai dari leher, dan ini mudah dikenal karena dari warnanya yang kuning sampai merah kacoklatan. Jika benang-benang jamur yang berwarna gelap itu berkembang, jaringan sakit akan mengering, berwarna gelap dan bertekstur seperti kertas.
Daur penyakit :
Patogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dan berbagai konidium. Di lapangan jamur membentuk konidium pada malam hari. Konidium disebarkan oleh angin. Pada suhu dan kelembaban udara yang tinggi konidium yang disebarkan berkurang. Konidium A. Porri paling banyak tertangkap pukul 10-14, sedang paling sedikit pukul 22-02. Infeksi terjadi melalui mulut kulit dan melalui luka-luka. Selain kelembabapan tinggi, terjadinya infeksi memerlukan adanya lapisan air di permukaan dan paling sedikit selama 4 jam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :
Tanaman yang baik pertumbuhannya karena dipupuk secara seimbang dan mendapat penyiraman yang cukup, kurang mendapat gangguan penyakit. Tanaman bawang putih rentan terhadap penyakit ini pada saat pembentukan (inisiasi) umbi lapis, pada umur 60-70 hari setelah tanam (Sia dan Dwiyanto, 1995).
Pengelolaan penyakit :
1.        Bercak ungu dikendalikan dengan menanam bawang di lahan yang mempunyai drainasi baik dan dengan mengadakan pergiliran tanaman (rotasi) (Knot dan Deanon, 1967).
2.        Pada bawang daun pemberian pupuk organik yang terdiri atas casting (kotoran cacing) dan mulsa jerami, secara terpisah maupun kombinasinya, dapt mengurangi berca ungu, disamping juga mengurangi kutu daun (Handayati dan Sihombing, 2000).
3.        Jika diperlukan penyakit dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida. Untuk keperluan ini dapat dipakai fungisida tembaga, ferbam, zineb, dan nabam yang ditambah sulfat seng. Perlu diingat bahwa pemberian fungisida berpengaruh negatif terhadap populasi mikoriza pada akar bawang putih. Fungisida sistemik lebih meracun mikoroza ketimbang fungisida nonsistemik (Suryanti, et. al, 1995).

2.        Antraknose (Colletotrichum gloeosporioiodes)
Penyebab :
Penyakit disebabkan oleh jamut Colletotrichum gloeosporioiodes Penz. Mungkin jamur ini sebenarnya adalah Colletotrichum circinans (Berk) Vogl. (Suhardi, 1988) yang terdapat di Irian Jaya dan dibanyak negara penanam bawang, yang menyebabkan penyakit yang disebut smudge.
Gejala :
Pada daun sakit menyebabkan terjadinya bercak cokelat, yang apabila berkembang lebih lanjut dapt menyebabkan daun patah dan gugur. Pada umbi gejala adalah terjadinya bercak berwarna hijau tua atau hitam. Serangan pada umbi menyebabkan daun menjadi berkelok-kelok atau terpuntir (terpilin), sehingga tidak berkembang ke atas seperti biasanya. Umbi yang terserang dapat membusuk.
            Daur penyakit :
Penyakit terutama dipencarkan oleh percikan air pada jarak dekat. Menurut Suhardi (1995,1996), maksimum pemencaran adalah 80 cm, melingkar sekeliling sumber infeksi. Pemencaran searah dengan angin dapat 1,5 - 2 kali lebih besar ketimbang pemencaran menentang angin.
Penyebab penyakit terutama bertahan pada umbi. Pada bawang ikatan 11-21% umbinya terkontaminasi, sedang pada bawang rontokan (rogolan) 12 - 25%. Patogen tidak dapat bertahan didalam tanah lebih dari 24 hari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :
Curah hujan berpengaruh nyata terhadap perkembangan penyakit. Infeksi dibantu oleh adanya lapisan air pada permukaan tanaman. Lamanya permukaan daun basah besar sekali pengaruhnya terhadap timbulnya penyakit. Suhu 26-30 C membantu perkembangan penyakit.
Pengelolaan :
1.        Karena infeksi terjadi lewat umbi benih, penyakit dapat dikurangi dengan perawatan benih. Untuk keperluan ini dipakai 30 g bahan aktif difenokonazol per 100 kg benih.
2.        Melakukan pergiliran tanaman (rotasi) meskipun C. Gloeosporioides kurang dapat berthan lama dalam tanah.
3.        Memberantas gulma yang ddapat menjadi inang untuk bertahannya patogen.
4.        Memperbaiki aerasi dan drainasi agar tidak ada air yang tergenang dan kelembaban pertanaman tidak terlalu tinggi. Memperlebar jarak tanam terutama pada musim penghujan (Suhendro, et al., 2000).
5.        Penyemprotan fungisida dapat mengurangi penyakit.

3.        Bercak Daun Cercospora (Cercospora duddiae)
Penyebab penyakit :
Cercospora duddiae Welles. Jamur ini mempunyai konidium lurus atau agak bengkok, pangkalnya tumpul, meruncing ke ujung, hialin, mempunyai banyak sekat berukuran 48-99 x 6-8 µm. Konidiofor berwrna gelap, bersekat, berukuran 47-168 x 5-9 µm. Mungkin jamur ini identik dengan Mycospherella schoenoprasi Ferck. Yang menyebabkan mati ujung daun pada Allim sp. di Irian Jaya.
Gejala :
Mula-mula terjadi bercak klorotis, bulat, berwarna kuning, dengan garis tengah 3-5 mm. Bercak paling banyak terdapat pada ujung sebelah luar daun. Bercak-bercak sering bersatu pada ujung daun, yang pada sebelah pangkalnya terdapat banyak bercak yang terpisah, sehingga daun tampak belang. Ujung mengering dan menjadi cokelat kelabu. Bercak-bercak yang terpisah mempunyai pusat yang terdiri atas jaringan mati.
Pengelolaan penyakit :
Penyakit dapat dikendikan dengan cara seperti yang dipakai dalam pengendalian bercak ungu.

4.        Busuk Daun (Peronospora destructor)
Penyebab penyakit :
     Disebabkan oleh jamur Peronospora destructor.
Gejala :
Kurang lebih pada saatt tanaman mulia membentuk umbi lapis, didekat ujung daun timbul bercak hijau pucat. Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang (mould jamur) yang berwarna putih lembayung atau ungu. Daun segera menguning, layu, dan mengering. Daun mati yang berwarna putih diliputi oleh kapangg hitam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :
Penyakit berkembang terutama pada musim hujan bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah. Diantara kultivar bawang merah yang paling toleran adalah Bangkok, diikuti oleh Bima, Tablet, Timur, dan Kuning (Supyani, 1993).
Pengelolaan
1.        Pemakaian benih yang sehat
2.        Jika penyakit banyak timbul, setelah panen, daun-daun dibakar. Tanah jangan ditanami bawang selama 3 tahun.
3.        Tanaman disemprot dengan fungisida. Penambahan ppelekat dan perata akan meningkatkan manfaat obat. Untuk keperluan ini dapat dipakai nabam yang ditambah dengan sulfat seng, maneb, atau zineb. Penyemprotan dimulai 1 minggu sebelum tanaman dicabut dari pembibitan.

1 komentar: