Senin, 12 Maret 2012

Hama dan Penyakit Tanaman Jagung


A.        Hama yang menyerang tanaman jagung
1.         Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Pyralidae
Genus : Ostrinia
Spesies : Ostrinia furnacalis Guen
Bioekologi :
Ngengat aktif malam hari dan tidak tertarik pada cahaya. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9 secra berkelompok berbentuk bulat panjang atau tidak teratur berwarna putih kekuning-kuningan mengkilat seperti sutera, jumlahnya sekitar 10-40 butir telur, tetapi kadang-kadang lebih dari 90 butir. Seekor ngengat betina mampu bertelur mencapai 500-1500 butir. Biasanya hama ini bertelur seminggu sebelum terbentuk bunga betina (tongkol). Selanjutnya, telur menetas sekitar 3-10 hari dan larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda mula-mula menggerek daun bagian bawah dan meninggalkan sisa-sisa makanan serta kotoran, kemudian menuju malai. Selanjutnya memakan malai dan memintal malai bersama serta membuat terowongan ke dalam tulang daun dan mengebor masuk ke dalam batang. Setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.  Ngengat hidup selama 10-24 hari.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
Gejala serangan yaitu larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak. Serangan yang hebat dapat menggagalkan panen.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Waktu tanam yang tepat.
b.        Tumpangsari jagung dengan kedelai atan kacang tanah untuk membingungkan hama dalam mencari inang baik karena beraneka senyawa kimia yang dikeluarkan maupun tinggi rendahnya tanaman-tanaman yang ada di lahan tersebut .
c.          Rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup hama ini dengan catatan hama pada tanaman jagung berbeda dengan hama pada tanaman lain.
d.        Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
e.        Menanam jagung agak lambat untuk menghindari telur hama lebih dini.
f.          Memindahkan batang-batang jagung sesudah panen dan memusnahkan tunggul batang jagung untuk mencegah larva tidur.
g.         Menghilangkan bunga jantan 3 dari 4 baris sesudah bunga jantan muncul untuk mengurangi pengebor jagung dan menambah hasil panenan.
h.        Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

2.         Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Ordo : Lepidoptera 
Famili : Noctuidae
Genus : Spodoptera
Spesies : Spodoptera litura F.
Bioekologi :
Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif malam hari. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada balik daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 200-300 butir) tertutup bulu seperti beludru, menetas 3-4 hari. Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Selanjutnya membentuk pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 3 -4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20-46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Gejala :
Gejala serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, , tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Pembakaran tanaman.
b.        Pengolahan tanah yang intensif.
c.         Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya.
d.        Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
e.        Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematode Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
f.          Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 12,5% per tanaman contoh.

3.         Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hbn.)
            Ordo : Lepidotera
Famili : Noctuidae
Genus : Helicoverpa
Spesies : Helicoverpa armigera Hbn.
Bioekologi :
Telur penggerek tongkol berbentuk bulat dan berwarna coklat kuning. Imago betina H. armigera meletakkan telur pada rambut jagung, yang diletakkan satu per satu pada kuncup muda, batang, atau buah. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 1000-1500 butir, telur menetas setelah 2-4 hari. Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar. Larva menyerang dalam keadaan masak susu. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24-27,2oC adalah 14-30 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme . Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah. Pupa, pada umumnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5-17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35oC sampai 30 hari pada suhu 15oC.
Gejala dan kerugian yang ditimbulkan :
                Gejala serangan yaitu Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.
                Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva. Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) menginfeksi larva.
b.        Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.
c.         Ngengat penggerek jagung bertelur bila jagung berbunga. Oleh karena itu, petani dapat menangkap ngengat dengan perangkap cahaya sebelum waktu jagung berbunga.
d.        Rotasi tanaman untuk memutus siklus hidupnya karena ulat ini sangat polyphagous.
e.        Tanaman tumpangsari dengan tanaman-tanaman yang bermanfaat sehingga dapat mengurangi jumlah serangan dari hama penggerek ini.
f.          Mengatur jarak tanam agar tidak memudahkan imago penggerek ini mencari inangnya.
g.         Untuk mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

4.         Lalat Bibit (Atherigona exigua Stein)
Ordo: Diptera
Famili : Antomyiidae
Genus : Atherigona
Spesies : Atherigona exigua Stein
Bioekologi :
Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara 5-23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5-4,5 mm. Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur 7-22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama 3-7 hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun. Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat dengan ukuran panjang 4,1 mm. aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan pada musim hujan.
Gejala :
Gejala serangan berupa larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Pemanfaatan musuh alami seperti Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp. dan parasit larva adalah Opius sp. dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
b.        Mengubah waktu tanam.
c.         Pergiliran tanaman agar dapat memutus siklus hidup lalat bi bit ini.
d.        Tanam serempak agar tidak tersedia makanan terus-menerus sehingga dapat memutus siklus hidupnya.
e.        Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
f.          Sanitasi kebun.
g.         Penggunaan varietas resisten seperti galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1- 11, MSQ-P1(S1)-C1-12, sementara galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangga hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35.
h.        Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik .

5.         Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae
Genus : Sitophilus
Spesies : Sitophilus zeamais Motsch
Bioekologi :
Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk, dan merupakan serangga yang bersifat polifag, selain menyerang jagung, juga beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu mente, S. zeamais lebih dominan terdapat pada jagung dan beras. Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur; stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25oC Larva kemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 25oC dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari. Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari jika tanpa makan. Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 29oC, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.
Gejala :
Gejala serangan yaitu S. zeamais merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di pertanaman.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Pengelolaan tanaman. Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka, tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis, Panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.
b.        Penggunaan varietas tanaman. Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk. Penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik.
c.         Kebersihan dan pengelolaan gudang. Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Taktik yang digunakan termasuk membersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari area gudang. Selain itu karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak dimana serangga dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon gudang.
d.        Persiapan biji jagung yang disimpan. Kadar air biji 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
e.        Melakukan penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk.
f.          Melakukan sortasi dapat dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh).
g.         Bahan Tanaman. Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.
h.        Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) mampu menekan kumbang bubuk.
i.           Melakukan fumigasi. Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernafasan. Fumigasi dapat dilakukan pada tumpukan komoditas kemudian ditutup rapat dengan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan yang kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau pengemasan dengan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi dengan parafin untuk penyimpanan skala kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3), dan Methyl Bromida (CH3Br).

B.        Penyakit yang menyerang tanaman jagung
1.         Bulai (Downy Mildew)
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.
Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik (gambar 34) dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan: Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang.
b.        Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan.
c.         Mengatur pola tanam dan pola pergiliran tanaman.
d.        Penanaman jagung secara serempak.
e.        Eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai.
f.          Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.

2.         Bercak Daun (Leaf Bligh)       

Penyebab penyakit bercak daun adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
Gejala serangan berupa penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O, bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm (Gambar 35). Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2) x (0,6-2,7) cm, berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan (gambar 36). Kedua ras ini, ras T lebih virulen dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam. Tongkol yang terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagi berikut.
a.         Menanam varietas tahan : Bima 1, Srikandi Kuning -1, Sukmaraga dan Palakka.
b.        Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun.
c.         Mengatur kondisi lahan tidak lembab.
d.        Pergiliran tanaman.
e.        Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

3.         Hawar Daun

Penyebab penyakit hawar daun adalah Helminthosporium turcicum
Gejala yaitu pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat (gambar 37). Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidakmenginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5.
b.        Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun.
c.         Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

4.         Karat (Rust)

Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora Underw
Gejala berupa bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah (gambar 38), uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10.
b.        Mengatur kelembaban.
c.         Eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma.
d.        Sanitasi kebun.
e.        Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil.

5.          Busuk Pelepah
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani Kuhn.
Gejala penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan mula-mula berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat. Gejala hawar dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar kebagian atas, pada varietas yang rentan serangan jamur dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menggunakan varietas/galur yang tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah misalnya: Semar 2, Rama, Galur GM 27.
b.        Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi.
c.         Lahan mempunyai drainase yang baik.
d.        Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
e.        Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

6.         Busuk Batang
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
Penularan yaitu cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya . Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu penetrasi ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
Gejala berupa tanaman jagung tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam busuk, sehingga mudah rebah, pada bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang terinfeksi tersebut ada yang memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan, hasil pengujian 54 varietas/galur jagung terhadap Fusarium sp. melalui inokulasi tusuk gigi di dapat 17 varietas/galur yang paling tinggi ketahanannya yaitu BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3.
b.        Pergiliran tanaman.
c.         pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
d.        Drainase yang baik.
e.        Penggunaaan musuh alami seperti cendawan antagonis Trichoderma sp.

7.         Busuk Tongkol
Penyakit busuk tongkol dapat disebabkan oleh beberapa jenis cendawan antara lain Fusarium moniliforme (penyebab busuk tongkol Fusarium), Diplodia maydis (penyebab busuk tongkol Diplodia), dan Gibberella roseum (penyebab busuk tongkol Gibberella).
Gejala pada busuk tongkol Fusarium adalah permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadangkadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih , dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.
Sedangkan gejala pada busuk tongkol Diplodia berupa kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada klobot infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi klobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapang.
Selanjutnya gejala pada busuk tongkol Gibberella yaitu tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan dapat menjadi busuk dan klobotnya saling menempel erat pada tongkol, badan buah berwarna biru hitam tumbuh di permukaan klobot dan bongkol.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Pemeliharaan tanaman yang sebaik-baiknya, antara lain dengan pemupukan seimbang.
b.        Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipatahkan agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
c.         Mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.
d.        Pergiliran tanam.
e.        Mengatur jarak tanam.
f.          Perlakuan benih.

8.         Virus Mosaik Kerdil Jagung
Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten.
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai tetapi apabila permukaannya daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasilnya.
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
b.        Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
c.         Penggunaan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
d.        Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar