Senin, 12 Maret 2012

Laporan praktikum PHT


I.         PENDAHULUAN

1.1    Tanaman
1.1.1 Terung (Solanum melongena L.)
Terong atau terung ialah tumbuhan yang tergolong dalam keluarga Solanaceae dan genus Solanum. Ia merupakan tumbuhan asli India dan Sri Lanka, dan berhubungan erat dengan tomat dan kentang. Buahnya biasa digunakan sebagai sayur untuk masakan. Nama botaninya Solanum melongena.
Terong ialah tumbuhan hijau yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh hingga 40-150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar. Ukurannya 10-20 cm (4-8 inci) panjangnya dan 5-10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan 15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis yang ditanam.
Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri mengandung banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu boleh dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung alkaloid nikotin. Ini tidaklah mengherankan karena terong adalah saudara dekat tembakau.
Terong merupakan sayuran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia. Ini tidak terlepas dari kebiasaan kita yang mengkonsumsinya baik dalam bentuk sayuran olahan maupun secara mentah. Dengan semakin beragamnya selera masyarakat terhadap terong, bentuknya pun mengalami perkembangan. Namun demikian, secara umum ciri fisik terong tidak jauh berbeda dari karakter seperti bentuk bulat/lonjong, panjang, berkulit mulus, dengan kaliks (tangkai buah) yang besar sesuai ukuran buahnya.
Buah terong merupakan sumber kalori yang cukup besar yaitu sekitar 24 kal. Selain sebagai sumber kalori, buah terong juga mempunyai komposisi gizi antara lain mengandung 1.5 % Protein, 0.2 gr lemak, 5.5 gr hidrat arang, 15 gram kalsium, 37 mg Fosfor, Besi 0.4 mg, Vit A 30 SI , Vit B1 0.04 mg, dan Vit C 5 mg. Dengan komposisi gizi seperti itu maka buah terong cocok dikonsumsi untuk perbaikan gizi.

1.1.2   Jagung (Zea Mays L.)
Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
 Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang.
Tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari subfamili myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung. Teosinte berasal dari Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar di daerah pertanaman jagung.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1-3 m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan.
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif.
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman.
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap. Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah.
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.
Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan, saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.

1.2    OPT
1.2.1   Terung (Solanum melongena L.)
Hama
1.        Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah. Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja.

2.        Kutu Daun (Aphis gossypii Glover)
Ordo : Homoptera
Famili : Aphididae
Distribusinya berupa kosmopolit. Tanaman inang : polifag , asparagus, alpukat, pisang, mentimun, terung, Hibiscus, kapas, papaya, cabai, kentang, bayam,tomat, semangka dll . Perkembangannya yaitu partenogenesis. hama ini berbentuk seperti pear, warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hitam, kuning. Mempunyai kornikel pada bagian ujung abdomen. Imago dapat hidup selama 28 hari. Satu ekor imago betina dapat menghasilkan 2-35 nimfa/hari. Siklus hidup dari nimfa sampai imago 5-7 hari. Selama satu tahun dapat menghasilkan 16-47 generasi.
Gejala serangan yaitu serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang diserang akan mengkerut, pucuk mengeriting dan melingkar shg pertumbuhan tanaman terhambat atau tanaman kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu shg menarik datangnya semut dan cendawan jelaga berwarna hitam. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman (50 jenis virus) sep. Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus , Cucumber Mosaic Virus (CMV).

3.     Tungau ( Tetranynichus spp.)
Serangan hebat musim kemarau. Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.

4.        Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
            Ordo : Lepidoptera
            Famili : Noctuidae
Hama ini disebut ulat tanah (Block Cutworm)
Serangga ini menimbulkan kerusakan pada tanaman muda, larvanya memotong batang tanaman muda dengan stadium larva 19-20 hari. Larvanya bersembunyi pada siang hari dibawah permulaan tanah. Pada senja atau malam hari ulat tanah muncul ke permukaan tanah dan memotong pangkal batang tanaman. Pupanya berada dalam tanah. Daur hidupnya 46-71 hari. Larva memotong pangkal tanaman dan bila dikorek-korek biasanya ditemukan larva tersebut akibatnya banyak tanaman yang mati. Tanaman inangnya yaitu tanaman sayuran muda seperti cabai, tomat dan jagung. aktif senja atau malam hari.
Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh.

5.        Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Distribusi berupa kosmopolit, Asia, Australia, Kep. Pasifik Tanaman Inang bersifat polipag, solanaceae, brassicaceae, jagung, padi, kedelai, bayam, kacang tanah, gulma Perkembangan :yaitu holometabola (telur, larva, pupa, imago).
Telur diletakkan secara berkelompok, pada bagian permukaan bawah daun dan ditutupi oleh bulu-bulu halus,satu kel. Telur berisi rata-rata 350 butir. Telur berbentuk lonjong atau bulat diameter 0.5 mm, berwarna coklat kekuningan sampai krem. Masa telur 3-5 hari. Satu ekor imago betina mampu meletakkan telur sampai 2000-3000 butir
Larva terdiri dari 5-6 instar. Larva instar akhir dapat mencapai 5 cm. Masa larva sekitar 20 hari. Apabila diganggu akan menggulung. Larva muda berwarna kehijauan dan mempunyai bintik-bintik hitam. Larva tua berwarna abu-abu gelap atau coklat. Pada ruas abdomen I terdapat garis hitam melingkar. Pada bagian dorsal terdapat garis kuning dan bulatan hitam.
Pupa terbentuk di dalam tanah pada kedalaman 7-8 cm dari permukaan tanah, berwarna coklat kemerah-merahan/coklat tua. Masa pupa 8-11 hari. Imago : Berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depan, nokturnal. Ukuran14-17 mm. Lama hidup imago 6-10 hari. Siklus hidup : 32 hari
Gejala Serangan yaitu hama ini menyerang pada fase larva, secara berkelompok. Larva instar I dan II memakan epidermis daun bagian bawah, sehingga tampak transparan. Larva tua akan memakan helaian daun sehingga tinggal tulang-tulang daun saja. Daun yg terserang menjadi sobek, terpotong atau bolong. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi gundul. Disamping itu, larva juga memakan bunga dan polong muda. Kehilangan hasil dapat mencapai 85%.

6.        Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Distribusi berupa kosmopolit. Tanaman inang bersifat polifag, tomat, cabai, tembakau, kedelai, jagung. Perkembangan yaitu holometabola (telur, larva, pupa, imago).
Gejala serangan berupa pada daun, daun berlubang-lubang tak beraturan. pada serangan yang berat daun akan habis dan tanaman menjadi gundul. Pada buah, buah berlubang dan akhirnya akan membusuk bila terjadi infeksi sekunder kemudian rontok.
Telurnya berwarna putih kekuningan dan imago biasanya bertelur pada senja hari. Telur biasanya diletakkan secara tunggal pada bungan dan akan berubah warna menjadi merah tua atau kecoklatan setelah 24 jam, yang selanjutnya akan menetas dalam waktu kira-kira 3-5 hari. Satu ekor imago mampu bertelur 1000 butir.
Ukuran larva stadia akhir berkisar antara 2-4 cm dengan warna bervariasi mulai dari hijau, cokelat kemerahan ataupun cokelat kehitaman. Larva merusak daun, bunga dan buah, bersifat kanibal, masa larva 16-25 hari. Pupa terbentuk di dalam tanah, masa pupa 17 hari. Imago berukuran sedang, pj rentang sayap 30-40 mm, berwarna coklat, pada bgn tengah sayap terdapat bintik berwarna coklat tua. Siklus hidup adalah 35 hari.

7.  Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer)
Ordo : Homoptera
Famili : Aphididae
            Hama ini disebut juga Green Peach Aphid
Distribusi berupa Kosmopolit. Tanaman inang bersifat polifag, lebih dari 400 sp tan dari 40 famili, tomat, kentang, tembakau, kubis, cabai, terung, semangka, ubi jalar dll. Perkembangannya adalah Partenogenesis, seksual (telur, nimfa dan imago).
Nimfa dan imago mempunyai antena yang relatif panjang/sama panjang dengan tubuhnya. Nimfa dan imago mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel berwarna hitam. Imago yang bersayap warna sayapnya hitam, ukuran tubuh 2 - 2,5 mm, nimfa kerdil dan umumnya berwarna kemerahan. Nimfa dan Imago yang tidak bersayap tubuhnya berwarna
merah atau kuning atau hijau berukuran tubuh 1,8 - 2,3 mm. Umumnya warna tubuh imago dan nimfa sama, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam, perut berwarna hijau kekuningan. Siklus hidup 7 - 10 hari.
Temperatur mempengaruhi reproduksi ( > 25 - < 28,5 °C mengurangi umur imago dan jumlah keturunan, > 28,5OC reproduksi terhenti). Berkembang biak secara partenogenesis. Seekor kutu menghasilkan keturunan 50 ekor. Lama hidup kutu dewasa dapat mencapai 2 bulan.
Gejala Secara langsung, kutu daun ini mengisap cairan tanaman. Akibatnya, daun yang terserang keriput, berwarna kekuningan, terpuntir dan pertumbuhan  tanaman terhambat (kerdil), sehingga tanaman menjadi layu dan mati.  Gejala Secara tidak langsung, kutu daun berperan sebagai penyebar (vektor)  penyakit virus. Tanaman yang terserang penyakit virus akan menjadi kerdil, daun berukuran kecil dan pertumbuhannya terhambat.Dampak langsung serangan hama ini adalah tanaman menjadi keriput, tumbuh kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu lalu mati. Secara tidak langsung, kutu ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus terutama penyakit virus CMV, PVY. Kutu ini biasanya hidup berkelompok dan berada di bawah permukaan daun, menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda (pucuk). Eksudat/cairan yang dikeluarkan kutu ini mengandung madu sehingga mendorong tumbuhnya cendawan embun jelaga pada daun yang dapat menghambat proses fotosintesa.

8. Lalat Buah (Bactrocera sp.)
Ordo : Diptera
Famili : Tephritidae
Distribusi yaitu selain di Indonesia hama ini tersebar di Asia, Pasifik, Afrika umumnya di daerah tropis dan subtropis. Tanaman inang bersifat polifag, tomat, cabai, Semua tanaman buah-buahan dan sayuran buah antara lain mangga, kopi, pisang, jambu, cengkeh, belimbing, sawo, jeruk, ketimun, dan nangka.Perkembangannya adalah holometabola (telur, larva, pupa, imago).
Serangga dewasa mirip lalat rumah, panjang sekitar 6-8 mm dan lebar 3 mm. Torak berwarna oranye, merah kecoklatan, coklat atau hitam biasanya pada B. dorsalis terdapat 2 garis membujur dan sepasang sayap transparan. Pada abdomen terdapat 2 pita melintang dan satu pita membujur warna hitam atau bentuk buruf T yang kadang-kadang tidak jelas. Pada lalat betina ujung abdomen lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur  (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah sedangkan lalat jantan abdomen lebih bulat. Telur berwarna putih berbentuk bulat panjang yang diletakkan secara berkelompok 2-15 butir di dalam buah.
Larva terdiri atas 3 instar berbentuk belatung/bulat panjang dengan salah satu ujungnya (kepala) runcing dengan 2 bintik hitam yang jelas merupakan alat kait mulut, mempunyai 3 ruas torak, 8 ruas abdomen, berwarna putih susu atau putih keruh atau putih kekuningan, larva menetas di dalam buah cabai.
Pupa, berada di permukaan tanah berwarna kecoklat-coklatan dan berbentuk oval dengan panjang sekitar 5 mm. Siklus hidup di daerah tropis sekitar 25 hari. Serangga betina dapat meletakkan telur 1 - 40 butir/buah/hari dan dari satu ekor betina dapat menghasilkan telur 1.200 – 1.500 butir. Stadium telur 2 hari, larva 6 - 9 hari. Larva instar 3 dapat mencapai panjang sekitar 7 mm, akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah masuk ke dalam tanah dan menjadi pupa di dalam tanah. Pupa berumur 4 - 10 hari dan menjadi serangga dewasa.
Gejala serangan Buah yang terserang ditandai oleh lubang titik hitam pada bagian pangkalnya, tempat serangga dewasa memasukkan telur. Umumnya telur diletakkan pada buah yang agak tersembunyi dan tidak terkena sinar matahari langsung, pada buah yang agak lunak dengan permukaan agak kasar. Larva membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan dapat menyebabkan terjadi infeksi oleh OPT lain, buah menjadi busuk dan biasanya jatuh ke tanah sebelum larva berubah menjadi pupa.

9.        Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Ordo : Thysanoptera
Famili : Thripidae
Distribusi yaitu hama ini bersifat kosmopolit tersebar luas di Indonesia dan Thailand. Di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama selain cabai yaitu bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, waluh, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili crusiferae, crotalaria dan kacang-kacangan tetapi tidak dijumpai pada gulma.
Imago berukuran sangat kecil sekitar 1 mm, berwarna kuning sampai coklat kehitam-hitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak- bercak merah atau bergaris-garis. Imago betina mempunyai 2 pasang sayap yang halus dan berumbai/jumbai seperti sisir bersisi dua. Pada musim kemarau populasi lebih tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari.
Telur berbentuk oval/seperti ginjal rata-rata 80 butir per induk, diletakkan di permukaan bawah daun atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar, akan menetas setelah 3 – 8 hari.
Nimfa berwarna pucat, keputihan/kekuningan, instar 1 dan 2 aktif dan tidak bersayap. Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan tanah. Pupa terbungkus kokon, terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah sekitar tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda meningkat pada kelembaban relatif rendah dan suhu relatif tinggi. Daur hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7 – 12 hari. Hidup berkelompok.
Gejala langsung serangan pada permukaan bawah daun berwarna keperak- perakan, daun mengeriting atau keriput. Hama menyerang dengan menghisap cairan permukaan bawah daun dan atau bunga ditandai oleh bercak-bercak putih/keperak-perakan. Daun akan berubah warna menjadi coklat, mengeriting/keriput dan mati. Pada serangan berat, daun, pucuk serta tunas menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor dan pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil bahkan pucuk mati. Mula-mula daun yang terserang memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan serangga tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi cokelat tembaga. Daun-daun mengeriting keatas. Secara tidak langsung: trips merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting.

Penyakit
1.        Layu Bakteri
Penyebabnya adalah bakteri Pseudomonas solanacearum. Bisa hidup lama dalam tanah. Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi.
Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak. Sebenarnya serangan Layu bakteri bersifat lokal, seperti pembuluh Xylem / pembuluh angkut, tetapi karena menyerangya pada akar atau leher akar sehingga pasokan air dan hara tanaman dari tanah ke daun terhambat sehingga gejala yang muncul adalah kelayuan yang bersifat sistemik.

2.        Busuk Buah
Penyebabnya adalah jamur Phytophthora sp.
Gejala pada buah terung mula-mula terjadi bercak kebasahan yang bergaris tengah lebih kurang 0,5 cm. Becak meluas dengan cepat ke arah sumbu panjang, sehingga becak bentuknya memanjang. Pada jenis berbuah bulat dan warnanya ungu becak tetap berbentuk bulat dan berwarna gelap. Bagian dalam buah berubah warnanya, kebasah-basahan, dan berbatas coklat tidak teratur. Akhirnya buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk sama sekali.

3.        Bercak Daun
Penyebabnya adalah jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.

4.        Antraknose
Penyakit ini disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell.
Gejala pada buah becak-becak melekuku, bulat, yang dapat bersatu menjadi becak besar yang tidak teratur. Becak berwarna coklat dengan titik-titik hitam yang terdiri dari aservulus jamur.

5.        Busuk Leher Akar
Penyebabnya adalah Sclerotium rolfsii
Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat.

6.        Rebah Semai
Penyebabnya adalah Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp.
Gejala batang bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati.

7.        Mosaik
Virus mosaik ketimun dapat ditularkan secara mekanis dengan gosokan, maupun oleh kutu daun. Para pekerja yang menangani semai-semai dapat menularkan virus ke banyak tanaman. Virus juga mungkin terdapat di dalam banyak tumbuh, termasuk gulma di sekeliling pertanaman terung.

8.        Busuk Daun (Pseudoperonospora cubensis Berk)
Daur penyakit ini tidak dapat hidup sebagai saprofit pada sisa-sisa tanaman, dan jamur tidak mempertahankan dari musim ke musim pada tanaman mentimun. Spora dipencarkan oleh angin. Infeksi terjadi melalui mulut kulit.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini di bantu oleh kelembaban, dan akan berkembang hebat jika terdapat banyak kabut dan embun. Infeksi hanya terjadi kalaukelembaban udara 100 %, suhu 10-28oC, dengan suhu optimum 16-22oC.
Gejala pada permukaan atas daun terdapat becak-becak kuning, sering agak bersudut karena terbatas oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bawah becak terdapat kapang seperti bulu yang warnanya keunguan. Pada daun ketimun yang sakit dapat mati.

9.        Penyakit Tepung (Erysiphi cichoracearum DC)
Daur penyakit : penyakit ini dapat mempertahankan diri dari musim kemusim pada tanaman-tanaman hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini pada konidium jamur tepung ini dapat berkecambah dan mengadakan infeksi tanpa adanya tetes air, dengan kelembaban udara sedikit di bawah 100 %. Lapisan jamur putih mulai kelihatan setelah 8 – 10 hari.
Gejala pada permukaan daun dan batang muda terdapat lapisan putih betepung, yang terdiri dari miselium, konidiofor, dan konidiofor jamur penyebab penyakit. Becak kemudian menjadi kuning dan akhirnya mengering.
Pada penyakit berat daun dan batang muda dapat mati. Jika semua daun pada tanaman yang bersangkutan terinfeksi sehingga tanaman menjadi lemah, pertumbuhannya terhambat dan buahnya dapat terbakar, atau masak sebelum waktunya.

1.2.2   Jagung (Zea Mays L.)
Hama
1.        Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Pyralidae
Genus : Ostrinia
Spesies : Ostrinia furnacalis Guen
Bioekologinya adalah ngengat aktif malam hari dan tidak tertarik pada cahaya. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9 secra berkelompok berbentuk bulat panjang atau tidak teratur berwarna putih kekuning-kuningan mengkilat seperti sutera, jumlahnya sekitar 10-40 butir telur, tetapi kadang-kadang lebih dari 90 butir. Seekor ngengat betina mampu bertelur mencapai 500-1500 butir. Biasanya hama ini bertelur seminggu sebelum terbentuk bunga betina (tongkol). Selanjutnya, telur menetas sekitar 3-10 hari dan larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda mula-mula menggerek daun bagian bawah dan meninggalkan sisa-sisa makanan serta kotoran, kemudian menuju malai. Selanjutnya memakan malai dan memintal malai bersama serta membuat terowongan ke dalam tulang daun dan mengebor masuk ke dalam batang. Setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.  Ngengat hidup selama 10-24 hari.
Gejala serangan yaitu larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak. Serangan yang hebat dapat menggagalkan panen.

2.        Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Spodoptera
Spesies : Spodoptera litura F.
Bioekologinya adalah ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif malam hari. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada balik daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 200-300 butir) tertutup bulu seperti beludru, menetas 3-4 hari. Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Selanjutnya membentuk pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 3 -4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20-46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Gejala serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, , tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp.

3.        Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hbn.)
Ordo: lepidoptera
Famili: Noctuidae
Bioekologinya adalah imago betina H armigera meletakan telurnya pada rambut jagung. Rata-rata  produksi telur imago betina adalah 730 butir,telur menetas dalam tiga hari setelah diletakan. Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung masa perkembangan larva pada suhu 24-27 C adalah 12,8-21,3 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai 4 hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya tergantung pada kekerasan tanah.Pupa,pada umunnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5-17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung,fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35oC sampai 30 hari pada suhu 15oC.
     Gejala serangan yaitu imago betina akan meletakan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvansi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuatitas tongkol jagung.

4.        Lalat Bibit (Atherigona exigua Stein.)
Ordo : Diptera
Famili : Antomyiidae
Bioekologinya yaitu imago,lama hidup serangga dewasa bervariasi antara 5-23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul diatas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5-4,5 mm. Telur imago betina mulai meletakkan telurnya tiga samapai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur 7-22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakan selama 3-7 hari yang diletakan secara tunggal dengan berwarna putih, memanjang, diletakan dibawah permukaan daun. Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau dibawah permukaan tanah,umur pupa 12 hari pada pagi hari dan sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai dua bulan pada musim hujan.
     Gejala serangan berupa larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.

5.        Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)
Ordo : Coleoptera
Family : Curculionidae
Bioekologinya adalah Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan  maize weevil atau kumbang bubuk,dan merupakan serangga yang bersifat polyfag, selain menyerang jagung juga beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri,kacang kedelai,kelapa dan jambu mete, S. zeamais lebih dominan terdapat pada jagung dan beras. Telur di letakkan satu persatu pada lubang gerekan  di dalam biji, keperidian imago sekitar 300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 250C larva kemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 25oC dan kelembapan nisbi 70%. Pupa terbentuk didalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari. Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari jika tampa makan. Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 29oC, kadar air biji 14% dan kelebaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.
Gejala serangan yaitu S. zeamais merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di pertanaman.

Penyakit
1.        Bulai (Downy Mildew)
Penyakit bulai ini disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philipinensis yang luas`sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatra Utara dan Batu Malang Jawa Timur.
Gejala adalah pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis – garis klorotik. Pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala local. Gejala sistemikterjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila terinfeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan pertumbuhannya kerdil.

2.        Bercak Daun (Leaf Bligh)
Penyebab penyakit bercak daun adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
Gejala serangan berupa penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O, bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm (Gambar 24). Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2) x (0,6-2,7) cm, berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan (gambar 25). Kedua ras ini, ras T lebih virulen dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam. Tongkol yang terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.

3.        Hawar Daun
Penyebab penyakit hawar daun adalah Helminthosporium turcicum
Gejala yaitu pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat (gambar 26). Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidakmenginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang.

4.        Karat (Rust)
Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora Underw
Gejala berupa bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah (gambar 27), uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.

5.        Busuk Pelepah
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizobactonia solani.
Gejalanya berupa bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu – abu, bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan mula – mula berwarna putih kemidian berubah menjadi coklat. Gejala hawar dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permulaan tanah dan menjalar ke bagian atas, pada varietas yang rentan serangan jamur dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium da sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa – sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab, dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.

6.        Busuk Batang
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Phytium apanidermatum, Cephalosporium  maydis dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi dalah Diplodia sp,Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
     Penularan yaitu cendawan patogen penyebab busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya.Konidia dapat disebarkan oleh angin,air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman,cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya,spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada pwrmukaan tanaman jagung akan tumbuh entuk sejenis dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu penetrasi ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol,dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
     Gejala berupa tanaman jagung tampak layu atau kering seluruh daunny. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif ,yaitu setelah fase pembunggaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan,bagian dalam busuk,sehingga mudaj rebah, pada bagian kulit luarnya yang tipis. Pada pangkal batang terinfeksi tersebut ada yang memperlihatkan warna merah jambu,merah kecoklatan atau coklat.

7.        Busuk Tongkol
Penyakit busuk tongkol dapat disebabkan oleh beberapa jenis cendawan antara lain Fusarium moniliforme, Diplodia maydis dan Guberella roseum.
Gejala pada busuk tongkol fusarium adalah permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikiuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.
Sedangkan gejala pada busuk tongkol diplodia berupa kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselim berwarna putih, picnidia berwarna hitam tersebar pada klobot infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat kepermukaan biji dan menutupi klobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapang.
Selanjutnya gejala pada busuk tongkol giberella yaitu tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan dapat menjadi busuk dan klobot nya saling menempel erat pada tongkol, badan buah berwarna biru hitam tumbuhdi permukaan klobot dan bongkol.

8.        Virus Mosaik Kerdil Jagung
Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten.
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mozaik atau hijau dengan diselingi garis – garis kuning, dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai tetapi apabila permukaannya daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasilnya.

1.3    PHT
1.3.1   Terung (Solanum melongena L.)
Hama
1.        Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       mengumpulkan dan memusnahkan kumbang.
b.      Atur waktu tanam.

2.        Kutu Daun (Aphis gossypii Glover)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Mengatur waktu tanam.
b.        Pergiliran tanaman.
c.         Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson). Predator Coccinella transversalis dan Cendawan entomopatogen Neozygites fresenii

3.        Tungau ( Tetranynichus spp.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman.

4.        Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.        Pengolahan tanah yang baik.
b.        Menanam serempak.
c.         Konservasi musuh alami seperti parasitoid larva, yaitu Apenteles ruficrus Hal., Tritacsis braureri (De Mey) dan Cuphocera varia F.
d.        Pemasangan umpan beracun.
e.        kumpulkan dan musnahkan ulat.

5.        Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Mengumpulkan kel. Telur dan larva lalu dimusnahkan.
b.        tanaman campuran dengan akar tuba, bawang putih
c.         Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
d.        Tanam serempak.
e.         Pengolahan tanah yang baik untuk mematikan larva/pupa dalam tanah.
f.         Konservasi musuh alaminya parasitoid telur Telcnomus spodopterae Dodd, Virus (Nuclear polyhedrosis virus), nematode.

6.        Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Tanaman perangkap.
b.        Pengolahan tanah.
c.         Kumpulkan dan musnahkan buah terserang.
d.        Lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam.
e.         Sanitasi kebun.
f.         Penggunaan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma nana, Patogen NPV, Metarhizium.

7.        Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer)
Pengendalian dapat dilakukna dengan cara sebagai berikut.
a.         Pergiliran tanaman.
b.        Tanam serempak.
c.         Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
d.        Sanitasi kebun.
e.         Penggunaan varietas resisten.
f.         Kumpulkan dan musnahkan buah terserang.
g.        Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid Aphelinus asychis, Aphidius rosae, Diaeretiella rapae Predator Coccinella transversalis, dan Cendawan entomopatogen Erynia neoaphidis

8.         Lalat Buah (Bactrocera sp.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Rotasi tanaman.
b.        Pembungkusan buah.
c.         Penggunaan feromon Metil eugenol.
d.        Serangga jantan mandul.
e.         Pemanfaatan musuh alami berupa parasitoid, pathogen.

9.        Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Sanitasi.
b.        Rotasi tanaman.
c.         Membuang sisa tanaman yang terserang.
d.        Penggunaan musuh alami seperti parasitoid.

Penyakit
1.        Layu Bakteri
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Atur jarak tanam, sehingga kelembaban tidak terlalu lembab.
b.      Lakukan pergiliran tanaman, jangan menanam tanaman yang berjenis Solanaceae seperti tomat, tembakau dll karena akan memperparah serangan.

2.        Busuk Buah
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.

3.        Bercak Daun
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
d.        Rotasi tanaman.

4.        Antraknose
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
d.        Rotasi tanaman.
e.         Penggunaan varietas resisten.

5.        Busuk Leher Akar
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
d.        Rotasi tanaman.
e.         Penggunaan varietas resisten.

6.        Rebah Semai
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.          Tanam varietas tahan.
b.        Atur jarak tanam dan pergiliran tanaman.
c.         perbaikan drainase.
d.        Atur kelembaban dengan jarak tanam agak lebar.
e.         cabut dan buang tanaman sakit.

7.        Mosaik
Pengendalian yang dapat dilakukan dengan cara memberantas gulma khususnya yang termasuk famili terung-terungan, menangani semai-semai dengan hati-hati sebelumnya dicuci dengan sabun atau deterjen dan tanaman yang bergejala segera dicabut.

8.        Busuk Daun (Pseudoperonospora cubensis Berk)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.         Pembongkaran apabila terdapat tanaman terserang berat kemudian di bakar atau dipendam. Sisa-sisa tanaman lama dibersihkan.
b.        Mengatur jarak tanam dan drainase yang baik.

9.        Penyakit Tepung (Erysiphi cichoracearum DC)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Tanaman yang sakit dipendam dan dicabut.
b.      Memberantas gulma yang dapat menjadi tumbuhan inang jamur tepung, antara lain yang termasuk famili labu-labuan dan terungan.

1.3.2   Jagung (Zea mays L.)
Hama
1.        Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guen)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Waktu tanam yang tepat.
b.        Tumpangsari jagung dengan kedelai atan kacang tanah untuk membingungkan hama dalam mencari inang baik karena beraneka senyawa kimia yang dikeluarkan maupun tinggi rendahnya tanaman-tanaman yang ada di lahan tersebut .
c.          Rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup hama ini dengan catatan hama pada tanaman jagung berbeda dengan hama pada tanaman lain.
d.        Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
e.         Menanam jagung agak lambat untuk menghindari telur hama lebih dini.
f.         Memindahkan batang-batang jagung sesudah panen dan memusnahkan tunggul batang jagung untuk mencegah larva tidur.
g.        Menghilangkan bunga jantan 3 dari 4 baris sesudah bunga jantan muncul untuk mengurangi pengebor jagung dan menambah hasil panenan.
h.        Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

2.        Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Pembakaran tanaman.
b.        Pengolahan tanah yang intensif.
c.         Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya.
d.        Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
e.         Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematode Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
f.         Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 12,5% per tanaman contoh.

3.        Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hbn.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.         Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah parasit, Trichomma spp yang merupakan parasit  telur dan Eriborus argentiopilosa(Icheumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan Metarhizium anisopliae, menginfeksi larva. Bakteri Bacillus thuringensis dan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis  Virus (HaNPV) menginfeksi larva.
b.        Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yan terbentuk dalam tanah dan dapat megurangi populasi H.armigera berikutnya.
c.         Untuk mengendalikan larva H.armigera pada jagung, penyemrotan insektisida Decic dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan diteruskasn (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

4.        Lalat Bibit (Atherigona exigua Stein.)
Pengendaliannya dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Pemanfaatan musuh alami seperti Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp. Dan parasit larva adalah Opius sp. dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
b.        Mengubah waktu tanam
c.         Pergiliran tanaman
d.        Tanam serempak
e.         Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan
f.         Sanitasi kebun
g.        Penggunaan varietas unggul/tahan
h.        Perlakuan dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih.

5.        Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Pengelolaan tanaman.
Contohnya : dalam pemanenan, seharusnya dilakukan tepat pada waktunya, dimana jagung telah mencapai masak fisiologis. Apabila  di panen melewati hal tersebut dapat meningkatkan kerusakan biji dipenyimpanan.
b.        Penggunaan varietas tahan.
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk.
c.         Kebersihan dan pengelolaan gudang.
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Taktik yang digunakan membersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari area gudang.
d.        Melakukan penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk.
e.         Melakukan fumigasi.
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, dapat membunuh serangga/hama melalui system pernafasan.

Penyakit
1.        Bulai (Downy Mildew)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Menanam varietas tahan : Sukmaraga, lagaligo, srikandi, lamura, dan gumarang
b.        Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan
c.         Mengatur pola tanam dan pola pergiliran tanaman
d.        Penanaman jagungsecara serempak
e.         Eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai
f.         Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung dengan dosis 0,7 g bahan aktif/kg benih

2.        Bercak Daun (Leaf Bligh)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagi berikut.
a.         Menanam varietas tahan : Bima 1, Srikandi Kuning -1, Sukmaraga dan Palakka.
b.        Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun.
c.         Mengatur kondisi lahan tidak lembab.
d.        Pergiliran tanaman.
e.         Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

3.        Hawar Daun
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5.
b.        Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun.
c.         Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

4.        Karat (Rust)
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10.
b.        Mengatur kelembaban.
c.         Eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma.
d.        Sanitasi kebun.
e.         Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil.

5.        Busuk Pelepah
            Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Menggunakan varitas unggul yang tahan terhadap paenyakit hawar pelepah misalnya : Semar 2, Rama, Galur GM 27
b.        Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi
c.         Lahan mempunyai drainase yang baik
d.        Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus dilahan yang sama
e.         Penggunaan pestisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim

6.        Busuk Batang
     Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Menanam vareitas tahan
b.        Pergiliran tanaman
c.         Pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah
d.        Drainase yang baik
e.         Penggunaan musuh alami seperti Cendawan antagonis Trichoderma sp.

7.        Busuk Tongkol
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara :
a.         Pemeliharaan tanaman yang sebaik – baiknya yaitu dengan pemupukan seimbang
b.        Tidak membiarkan terlalu lama mongering dilapangan
c.         Mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi – padian karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang
d.        Mengatur jarak tanam
e.         Perlakuan benih

8.        Virus Mosaik Kerdil Jagung
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.         Mencabut tanaman yang terinfeksi secepat mungkin agar tidak  menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
b.        Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
c.         Penggunaan pestisida apabila di lapangan populasi vector cukup tinggi.
d.        Tidak menggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.

1.4    Rizobakteria
PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobakteri adalah sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidupnya secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini akan sangat baik. Bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya.
Rhizobakteria pemacu tumbuh tanaman (RPTT) adalah kelompok bakteri yang menguntungkan yang agresif menduduko (mengkolonisasi) rizosfir (bagiab perakaran). Aktivitas RPTT menguntungkan bagi tanaman baik langsung maupun secara tidak langsung. Pengaruh langsung RPTT didasarkan atas kemampuannya menyediakan dan memobilisasiatau memfasilitasi penyerapan berbagai unsur hara dalam tanah serta mensintesis dan mengubah konsentrasi fithothormon pemacu tumbuh. Sedangkan tidak langsungnya berkaitan dengan kemampuan menekan aktivitas pathogen dengan menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit seperti antibiotic.
Rhizobakteri adalah bakteri yang hidup di daerah perakaran (rhizosfer ) dan berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Pada dasarnya rhizobakteri dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
1.        Rhizorhizobakteri yang memacu pertumbuhan tanaman (PGPR : plant growth - promoting rhizobacteria ).
2.        Rhizorhizobakteri yang merugikan tanaman (DRB : deleterious rhizobacteria).
PGPR dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman melalui : produksi hormon pertumbuhan kemampuan fiksasi N untuk peningkatan penyediaan N tanah, penghasil osmolit sebagai osmoprotektan pada kondisi cekaman kekeringan dan penghasil senyawa tertentu yang dapat membunuh patogen tanaman (Kloepper, 1993 dalam Husen et al).
Menurut Lalande et al. (1989 dalam Husen at al), Pseudomonas sp. mampu menghasilkan hormon pemacu pertumbuhan tanaman yang dapat meningkatkan berat kering tanaman jagung mencapai 9%, sedangkan Salmonella liquefaciens meningkatkan berat kering mencapai 10% dan Bacillus sp. meningkatkan berat kering mencapai 7% lebih tinggi dibanding kontrol.
Mekanisme PGPR dalam meningkatkan kesehatan/kebugaran tanaman dapat terjadi melalui 3 cara, yaitu:
1.        Menekan perkembangan hama/penyakit (bioprotectant): mempunyai pengaruh langsung pada tanaman dalam menghadapi hama dan penyakit.
2.        Memproduksi fitohormon (biostimulant): IAA (Indole Acetic Acid); Sitokinin; Giberellin; dan penghambat produksi etilen: dapat menambah luas permukaan akar-akar halus.
3.        Meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman (biofertilizer) .Bila penyerapan unsur hara dan air yang lebih baik dan nutrisi tercukupi, maka menyebabkan kebugaran tanaman juga semakin baik, sehingga akan semakin meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan-tekanan, baik tekanan biologis (OPT) maupun non biologis (Iklim).




II.       BAHAN DAN METODA

2.1    Waktu dan Tempat
2.1.1   Di Rumah Kaca
Praktikum PHT di rumah kaca telah dilaksanakan dari tanggal 28 Maret-7 Mei 2011 di rumah kaca, fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang.

2.1.2   Di Lapangan
Praktikum PHT di lapangan telah dilaksanakan dari tanggal 26 Maret -  12  Mei 2011 di kebun milik Pak Iwan, Kecamatan Kuranji, Padang.

2.2    Bahan dan Alat
2.2.1   Di Rumah Kaca
Adapun bahan yang telah digunakan pada praktikum PHT di rumah kaca adalah  isolat rizobakteria (TdRz1.1.2), benih jagung, tanah, aquades, dan alcohol. Sedangkan alat yang telah digunakan adalah petridish, pinset, botol balsam, vortek, dan polibag.

2.2.2   Di Lapangan
Adapun bahan yang telah digunakan pada praktikum PHT di lapangan adalah tanaman terung yang diamati (OPT, kondisi lahan). Sedangkan alat yang telah digunakan adalah alat tulis, kamera/hp, dan buku.

2.3    Cara Kerja
2.3.1   Di Rumah Kaca
Pertama, disiapkan benih jagung yang akan diberi perlakukan dengan isolat rizobakteria. Kedua, benih tersebut disterilisasi permukaan benih terlebih dahulu dengan aquades-alkohol-aquades masing-masing selama 3 menit. Selanjutnya, isolat rizobakteria yang telah disiapkan divortek supaya homogen. Lalu, isolat yang telah divortek dituangkan ke dalam botol balsam. Selanjutnya, 9 benih jagung direndam di dalam isolate tersebut selama 10 menit yang akan dijadikan sebagai perlakuan dan 9 benih jagung lainnya dimasukkan ke dalam botol balsam kosong yang akan dijadikan sebagai control. Kemudian, masing-masing benih ditanam di polibag yang telah ditetapkan, baik sebagai control maupun perlakuan. Terakhir, dilakukan pemeliharaan dan pengamatan.

2.3.2   Di Lapangan
Pertama, pembagian tanaman yang akan diamati. Selanjutnya, dilakukan survey untuk mengetahui lokasi tanaman tersebut ditanam. Lalu, dilakukan wawancara atau diberi kuisioner kepada petani. Selanjutnya, dilakukan pengamatan terhadap tanaman tersebut (OPT), kondisi lahan, dan PHT yang telah dilakukan oleh petani.

2.4    Pengamatan
2.4.1   Di Rumah Kaca
Pengamatan dilakukan tiap minggu hingga minggu ke-6 di rumah kaca. Yang diamati berupa OPT yang menyerang dan bagaimana pengendaliannya. Selain pengamatan, dilakukan juga pemeliharaan seperti penyiraman terhadap tanaman yang diamati.

2.4.2   Di Lapangan
Pengamatan dilakukan tiap minggu hingga minggu ke-8 di kebun milik pak Iwan, Kuranji. Yang diamati berupa OPT yang menyerang, kondisi lahan, dan PHT yang telah dilakukan oleh Petani.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.2  Pembahasan
3.2.1  Di Rumah Kaca
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan tanaman jagung yang diberi perlakuan rizobakteria lebih bagus dibandingkan pertumbuhan tanaman jagung tanpa perlakuan (control). Selain itu, hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung yang diberi perlakuan lebih sedikit daripada tanaman jagung yang tanpa perlakuan (control).
Hal itu bisa ditunjukkan dari tinggi tanaman jagung yang paling tinggi pertumbuhannya hingga minggu ke-6 yaitu pengamatan pada hari sabtu/14 Mei 2011 yang diberi perlakuan rizobakteria pada ulangan ke-1 dengan tinggi 89 cm, sedangkan tanaman jagung yang paling rendah pertumbuhannya  hingga minggu ke-6 yaitu pengamatan pada senin/04 April 2011 yang tanpa diberi perlakuan (control) pada ulangan ke-3 dengan tinggi 58 cm.
OPT yang menyerang tanaman yang diberi perlakuan hanya penyakit bulai dan gulma sedangkan pada tanaman yang tanpa perlakuan (control) terkena penyakit hawar daun, bulai, dan bercak daun.
Hal itu dikarenakan rizobakteria dapat memacu pertumbuhan tanaman. Rizobakteria adalah sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidupnya secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini akan sangat baik. Bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya. Menurut Kloepper, 1993 dalam Husen et al bahwa rizobakteria dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman melalui produksi hormon pertumbuhan kemampuan fiksasi N untuk peningkatan penyediaan N tanah, penghasil osmolit sebagai osmoprotektan pada kondisi cekaman kekeringan dan penghasil senyawa tertentu yang dapat membunuh patogen tanaman.
OPT yang meyerang tersebut hanya dikendalikan dengan pengendalian secara mekanis/fisis saja (dicabut dan dibuang bagian tanaman yang sakit). OPT bisa menyerang karena dalam pemeliharaan tanaman hanya dilakukan penyiraman saja tanpa adanya pemupukan, padahal dengan pemupukan tanaman bisa memperoleh unsur hara yang dibutuhkan sehingga bisa lebih tahan terhadap penyakit.
3.2.2.      Di Lapangan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat dijelaskan bahwa hama dan penyakit yang menyerang tanaman terong sedikit karena petani membudidayakan tanaman terong dengan menggunakan konsep PHT, yang berupa jarak tanam diatur, pergiliran tanaman, polikultur, sanitasi, pemakaian mulsa plastik, pemangkasan dan penggunaan pestisida sintetis.
Dengan penggunaan konsep PHT tersebut maka produksi tanaman terong cukup tinggi dan jarang mengalami penurunan produksi. Selain itu, dapat meningkatkan pendapatan bersih petani, mengurangi risiko kegagalan panen, memelihara kualitas lingkungan hidup, mengurangi risiko keracunan pestisida pada produsen dan konsumen, memelihara keberlanjutan sistem ekologi (musuh alami,keanekaragaman hayati), dan menurunkan ongkos usahatani.
Hal itu dapat dilihat dari tinggi tanaman paling tinggi pertumbuhannya hingga minggu ke-8 yaitu tanaman ke-4 dengan tinggi 123 cm, sedangkan tanaman yang paling rendah hingga minggu ke-8 yaitu tanaman ke-10 dengan tinggi 80 cm.
Jenis OPT yang ditemukan sedikit yaitu berupa:
1. Belalang, yang dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan, yaitu daun tanaman berlubang-lubang.
2. Bemo-bemo atau Coccinellidae, yang dapat dilihat dari  gejalanya yang berupa bintik-bintik kecil (bekas tusukan) yang terlihat pada daun tanaman .
3. Kutu daun, dilihat dari gejala yang berupa daun mengkerut dan berwarna kekuningan.
4. Ulat, dilihat dari gejala yang berupa daun sobek.
5. Bercak daun, dilihat dari gejalanya yang berupa bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.
6. Busuk buah, dilihat dari gejalanya yang berupa Bagian dalam buah berubah warnanya, kebasah-basahan, dan berbatas coklat tidak teratur. Akhirnya buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk sama sekali.
7. Penyakit layu
Untuk penurunan tinggi tanaman dari minggu sebelumnya disebabkan adanya pemangkasan. Pemangkasan ini dilakukan bisa disebabkan untuk meningkatkan produksi maupun mengurangi hama dan penyakit yang menyerang.



DAFTAR PUSTAKA

Husen et al. Rizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman.

Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

Rukmana, R. 1994. Bertanam Terung. Kanisius. Jakarta

Rismunandar. 2003. Hama Tanaman Pangan dan Pembasmiannya. Bandung: Sinar Baru Algensindo

_______________. Penyakit Tanaman Pangan dan Pembasmiannya. Bandung: Sinar Baru Algensindo







               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar